Harga Kedelai Lokal Anjlok, Ini Penyebabnya

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerja merapikan karung di gudang kedelai, Pasar Minggu, Jakarta, 9 Januari 2015. Menurut Gabungan Pengusaha Tahu dan Tempe Indonesia (Gapoktindo) Pengrajin tahu dan tempe membutuhkan 1,8 juta ton kedelai sepanjang 2015. Kebutuhan ini lebih banyak dipenuhi oleh impor ketimbang produksi dalam negeri. TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

    Pekerja merapikan karung di gudang kedelai, Pasar Minggu, Jakarta, 9 Januari 2015. Menurut Gabungan Pengusaha Tahu dan Tempe Indonesia (Gapoktindo) Pengrajin tahu dan tempe membutuhkan 1,8 juta ton kedelai sepanjang 2015. Kebutuhan ini lebih banyak dipenuhi oleh impor ketimbang produksi dalam negeri. TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

    TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Pertanian menyatakan harga jual kedelai lokal anjlok di titik Rp 4.500 per kilogram. Anjloknya harga kedelai lokal disebabkan membanjirnya kedelai impor.

    "Kalau harganya jelek begini, tidak ada yang mau tanam," kata Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Hasil Sembiring di kantor Kementerian Koordinator Perekonomian, Jakarta, Selasa, 25 Agustus 2015.

    Sebelumnya, harga jual kedelai lokal berkisar di angka Rp 6.000 per kilogram. Sementara harga pokok pembelian dari pemerintah sebesar Rp 8.400 per kilogram. "Kami sudah bertemu Kementerian Perdagangan untuk mengatur kuota kedelai impor," kata Hasil.

    Produksi kedelai lokal baru 969 ribu ton per tahun. Sementara kebutuhan nasional tiap tahun mencapai 2,2 juta ton. Sisa kebutuhan dipenuhi dari impor. Namun kebutuhan nasional menurut Hasil sebenarnya bisa dipenuhi jika harga kedelai lokal bagus. "Kalau harganya bagus, gunung itu saya tanami kedelai," kata Hasil menirukan ucapan para petani.

    Adapun soal pengaturan kuota impor kedelai, kata Hasil, nantinya setiap importir mesti berkewajiban menyerap kedelai lokal. Berapa kewajiban menyerap kedalai lokal itu masih dibahas Kementerian Pertanian dengan Kementerian Perdagangan.

    KHAIRUL ANAM
     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jangan Unggah Sertifikat Vaksinasi Covid-19 ke Media Sosial

    Menkominfo Johnny G. Plate menjelaskan sejumlah bahaya bila penerima vaksin Sinovac mengunggah atau membagikan foto sertifikat vaksinasi Covid-19.