Industri Kimia Bingung Rupiah Semakin Terdepresiasi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas money changer menghitung mata uang dolar. Rupiah semakin tertekan terhadap nilai tukar dolar Amerika Serikat, di level Rp14.060 per Dolar AS. Jakarta, 25 Agustus 2015. TEMPO/Subekti

    Petugas money changer menghitung mata uang dolar. Rupiah semakin tertekan terhadap nilai tukar dolar Amerika Serikat, di level Rp14.060 per Dolar AS. Jakarta, 25 Agustus 2015. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Jakarta - Indonesian Olefin & Plastic Industry Association mendesak pemerintah menjaga nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat tidak mencapai Rp14.500 per US$.

    Fajar Budiyono, Sekretaris Jenderal Indonesian Olefin & Plastic Industry Association (Inaplas), mengatakan industri kimia hilir sangat rentan dengan nilai tukar mata uang seiring tingginya bahan baku impor.

    “Jika rupiah menyentuh Rp14.500 per dolar, industri kimia hilir akan kolaps. Memang saat ini harga bahan baku tengah turun seiring penurunan harga minyak dunia, tetapi depresiasi rupiah lebih tajam ketimbang penurunan harga bahan baku,” ujarnya,Selasa, 25 Agustus 2015.

    Selain menjaga nilai tukar tak semakin terperosok berhadapan dengan dolar Amerika Serikat, Inaplas meminta pemerintah mengawasi peredaran 115 HS produk jadi plastik yang telah ditetapkan Standar Nasional Indonesia (SNI) baik secara sukarela maupun wajib.

    Pasalnya, impor produk jadi plastik yang tak ber-SNI dengan harga rendah telah mengganggu industri dalam negeri. Dalam hal ini, pengetatan pengawasan harus dilakukan di pelabuhan.

    Sesuai dengan kurs referensi Jakarta Interbank Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia, hari ini nilai tukar rupiah ditutup pada Rp14.067 per dolar Amerika Serikat.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Perpres Investasi Miras

    Pemerintah terbitkan perpres investasi miras, singkat dan minuman keras. Beleid itu membuka investasi industri minuman beralkohol di sejumlah daerah.