Kata Menteri Amran Soal Penyebab Harga Komoditas Tinggi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pedagang cabai. TEMPO/Tony Hartawan

    Pedagang cabai. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengatakan harga komoditas tinggi bukan semata-mata karena pasokan kurang, tetapi karena penyebaran komoditas yang kurang merata.

    "Tidak selamanya harga naik menjulang tinggi karena suplai kurang," katanya usai mengunjungi bazar produk pertanian, Kementerian Pertanian, Jakarta, Senin, 24 Agustus 2015.

    Ia mengatakan selama ini sejumlah harga komoditas yang naik, seperti bawang merah dan cabai, dapat diatasi tanpa harus mengimpor. "Cabai, bawang, itu pasokannya ada, tapi tidak tersebar. Apa benar kita impor? Tidak. Harga beras naik di Februari 30 persen, tapi kita tidak impor. Orang yang tidak paham begitu harga naik di kepala ialah pasokan kurang," ujarnya.

    Harga cabai yang berada di kisaran Rp 60.000 per kilogram atau lebih yang terjadi di sejumlah daerah di Indonesia seperti Jawa Timur maupun harga bawang merah yang sempat naik di kisaran Rp 30.000 pada Maret 2015 juga dapat distabilkan tanpa harus mengimpor. "Kita baru bekerja beberapa bulan, harga naik. Bawang merah, tapi berhasil tanpa impor," tuturnya.

    Menurut dia, pengamat maupun masyarakat diharapkan dapat melihat persoalan kenaikan harga secara menyeluruh, bukan langsung menyimpulkan kenaikan harga karena pasokan yang kurang.

    Untuk itu ia mengatakan dalam mendorong penyebaran komoditas dan ketersediaan pasokan, maka toko tani murah menjadi solusi ke depan.

    "Kita buat solusi permanen. Setiap titik pasar strategis kita buat pasar tani," ujarnya.

    Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian Spudnik Sujono mengatakan produk pertanian selama ini dikuasai pedagang, sehingga margin harga kerap ditentukan pedagang.

    "Ini kan kejadiannya kan dari tahun ke tahun. Jadi saya bilang saya langsung turun ke semua lokasi tempat usaha tani itu, produk hasil itu sudah dikuasai pedagang," ucapnya.

    Dengan demikian, ujarnya, pemerintah seharusnya sejak awal mendorong jangan sampai harga terus-menerus diatur oleh pedagang.

    "Kalau begini kan kalau (harga diatur) pedagang kan mau-maunya pedagang. Petani mengeluh terus. Pak, saya jual cabai Rp 17.000 per kilogram kok Bapak (pedagang) di sana bisa Rp 40.000 per kilogram, bisa Rp 55.000 per kilogram, Rp 56.000 per kilogram, saya (petani) jualnya hanya Rp 20.000 per kilogram, artinya menikmati untung itu pedagang," ujarnya.

    Ia mengatakan selama ini pedagang mengambil keuntungan yang jauh lebih besar dibanding petani.

    "Delta margin antara petani dengan delta margin pedagang itu lebih tinggi, lebih besar di pedagang. Ini yang harus kita benahi ke depan," ujarnya.

    Untuk itu, ia mengatakan toko tani murah dapat diwujudkan sebagai solusi untuk menstabilkan harga serta menjadi media untuk mendorong transaksi normal dan rantai distribusi yang tidak terlalu panjang, sehingga harga itu tidak berbeda jauh antara petani dan pedagang.

    "Toko tani murah diharapkan di semua provinsi, ada di daerah-daerah, pasar-pasar sentra menjadi perhatian," ujarnya.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kronologi KLB Partai Demokrat, dari Gerakan Politis hingga Laporan AHY

    Deli Serdang, KLB Partai Demokrat menetapkan Moeldoko sebagai ketua umum partai. Di Jakarta, AHY melapor ke Kemenhumkam. Dualisme partai terjadi.