Ini Strategi Darmin Hadapi Kartel Pangan  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kiri-kanan: Menteri Perdagangan Thomas Trikasih Lembong, Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Sofyan Jalil, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Menteri Koordinator Kemaritiman Rizal Ramli dan Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution berbincang usai dilantik oleh Presiden Joko Widodo di Istana Negara, Jakarta, 12 Agustus 2015. Tempo/Aditia Noviansyah

    Kiri-kanan: Menteri Perdagangan Thomas Trikasih Lembong, Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Sofyan Jalil, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Menteri Koordinator Kemaritiman Rizal Ramli dan Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution berbincang usai dilantik oleh Presiden Joko Widodo di Istana Negara, Jakarta, 12 Agustus 2015. Tempo/Aditia Noviansyah

    TEMPO.CO, Gresik - Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution mengatakan kartel pangan selama ini memanfaatkan data stok komoditas pangan yang tidak akurat.

    "Yang pertama harus dilakukan adalah jangan ciptakan suasana mereka bisa hidup, yakni dengan mengatakan yang sebenarnya tentang keadaan stok kita,” kata Darmin saat mengunjungi Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE) di kawasan Manyar, Gresik, Minggu, 23 Agustus 2015.

    Menurut Darmin, data yang riil soal stok pangan akan mempersempit ruang gerak kartel. “Kalau cukup katakan ada dan sebaliknya. Karena mereka akan menggunakan kesempatan," kata Darmin.

    Mantan Gubernur Bank Indonesia iu mengatakan penyediaan data stok pangan nasional yang akurat akan melibatkan sejumlah lembaga. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Kementerian Pertanian, dan Kementerian Perdagangan akan diminta segera menyusun data stok pangan yang akurat. “Kita harus bekerja dengan data yang akurat. Sebab kalau data itu salah, mereka (kartel) akan tahu,” ujarnya.

    Langkah lain dalam menghadang ruang gerak kartel pangan impor itu ialah dengan membangun berbagai proyek infrastruktur. Darmin menggambarkan masyarakat Indonesia sering merasa aneh terhadap barang-barang produksi yang dianggap kurang bersaing, baik itu industri atau pertanian. “Mengapa harga beras dan daging di Malaysia lebih murah? Karena kita belum punya sistem logistik yang baik,” ujarnya.

    Menurut Darmin, kawasan terpadu antara industri, pelabuhan, dan infrastruktur pendukung seperti JIIPE akan menjadi bagian dari jaringan logistik nasional. Sejalan dengan itu, di daerah-daerah lain juga akan dibangun kawasan terpadu yang mengintegrasikan sektor peternakan, perkebunan dan pertanian. “Secara otomatis itu akan membantu (melawan kartel) karena bisa memotong jalur yang tidak perlu serta menjadi penyebab harga pangan lokal jadi tinggi," ujar Darmin.


    ARTIKA RACHMI FARMITA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Perpres Investasi Miras

    Pemerintah terbitkan perpres investasi miras, singkat dan minuman keras. Beleid itu membuka investasi industri minuman beralkohol di sejumlah daerah.