Kekeringan, Harga Beras di Yogyakarta Naik  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petani menjemur gabah di daerah terdampak genangan Waduk Jatigede, Desa Cibogo, Darmaraja, Sumedang, Jawa Barat, 7 Agustus 2015. Kemarau panjang akibat dampak El Nino diprediksikan bakal mempengaruhi stok beras di masa paceklik di awal tahun depan. Idealnya Bulog memiliki stok 2,5 juta ton beras pada akhir tahun. TEMPO/Prima Mulia

    Petani menjemur gabah di daerah terdampak genangan Waduk Jatigede, Desa Cibogo, Darmaraja, Sumedang, Jawa Barat, 7 Agustus 2015. Kemarau panjang akibat dampak El Nino diprediksikan bakal mempengaruhi stok beras di masa paceklik di awal tahun depan. Idealnya Bulog memiliki stok 2,5 juta ton beras pada akhir tahun. TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Harga komoditas beras di sejumlah pasar tradisional di Daerah Istimewa Yogyakarta melambung, rata-rata per kilogram Rp 10 ribu. Penyebabnya adalah musim kemarau yang membuat produksi padi menurun.

    Pedagang di Pasar Bantul, Kabupaten Bantul dan Pasar Demangan, Sleman, rata-rata menjual beras jenis IR 64 Rp 9.000-10.000. Harga beras tidak juga turun sejak Ramadan 2015. “Selama beberapa pekan ini naik Rp 500 untuk segala jenis beras,” kata pedagang beras Pasar Bantul, Nani, Jumat, 21 Agustus 2015. Nani membeli beras jenis IR 64 Rp 8.500 per kilogram dari petani. Dia mengatakan sebagian petani memilih untuk menyimpan gabah hasil panen untuk menghadapi musim kemarau.

    Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Usaha Kecil Menengah DIY Eko Witoyo mengatakan sebagian lahan di sentra-sentra produksi pertanian kekurangan air akibat musim kemarau. Ini membuat jumlah produksi padi menurun di sebagian areal pertanian. Sentra produksi padi di DIY tersebar di Kabupaten Bantul, Kulonprogo, dan Sleman. “Produksi padi yang merosot tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” kata Eko.

    Ia mengatakan harga beras cenderung naik di pasar. Petugas Dinas Perindustrian memantau kenaikan harga beras di Pasar Beringharjo, Kranggan, dan Demangan. Harga rata-rata Rp 10 ribu per kilogram. Untuk menstabilkan harga beras, Dinas Perindustrian bersama Badan Urusan Logistik Divisi Regional DIY pekan ini mulai melakukan operasi pasar murah di sejumlah pasar tradisional.

    Jumlah beras yang dijual dengan harga di bawah pasaran itu sebanyak 22,5 ton pada Agustus ini. Beras murah jenis IR 64 itu dijual Rp 7.400 per kilogram. Bulog mengemasnya dalam jumlah lima kilogram. Beras dalam operasi pasar murah itu adalah beras cadangan yang disimpan di Bulog, bersumber dari duit anggaran pendapatan dan belanja negara. Operasi pasar murah dijalankan karena terjadi gejolak harga.

    Kepala Bulog Divisi Regional Daerah Istimewa Yogyakarta Langgeng Wisnu Adinugroho menyatakan operasi pasar Agustus ini dilakukan di sejumlah lokasi. Di antaranya Pasar Demangan, Sentul, Kotagede, Lempuyangan, Prawirotaman, dan Patangpuluhan. Operasi pasar dimulai Jumat pagi, 21 Agustus di Pasar Demangan dan Pasar Sentul.

    Langgeng memastikan persediaan beras selama musim kemarau ini mencukupi. Stok beras di empat gudang Bulog untuk enam bulan ke depan sebanyak 22 ribu ton. Gudang itu berada di Sleman, Gunung Kidul, Bantul, dan Kulon Progo. “Kami per hari membeli beras panenan petani,” kata Langgeng.

    SHINTA MAHARANI



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Studi Ungkap Kecepatan Penyebaran Virus Corona Baru Bernama B117

    Varian baru virus corona B117 diketahui 43-90 persen lebih menular daripada varian awal virus corona penyebab Covid-19.