Mengintip Fasilitas Rp 18 Triliun di Tambang 'Rahasia' Freeport  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerja memeriksa proses pengolahan biji tambang PT Freeport Indonesia di Mimika, Papua, 14 Februari 2015. Sabtu (14/2). Nurhadi mengatakan saat ini tambang terbuka Grassberg mempunyai cadangan 150 juta ton ore (tembaga mentah) dan akan habis dua tahun lagi. ANTARA/M Agung Rajasa

    Pekerja memeriksa proses pengolahan biji tambang PT Freeport Indonesia di Mimika, Papua, 14 Februari 2015. Sabtu (14/2). Nurhadi mengatakan saat ini tambang terbuka Grassberg mempunyai cadangan 150 juta ton ore (tembaga mentah) dan akan habis dua tahun lagi. ANTARA/M Agung Rajasa


    Menurut Hengky, fasilitas tersebut disediakan untuk para pekerja. Di dalam tambang, terdapat sepuluh ruang kantor untuk kebutuhan administrasi yang masing-masing berukuran 6 x 6. Selain itu, ada ruang makan yang disebut mess hall. Ruang makan ini juga mampu menampung ratusan pegawai.

    Wajib Baca: IPB Kalahkan UI Jadi Universitas Terbaik, Ini Sebabnya

    Makanan disajikan secara prasmanan dua kali sehari dengan menu memenuhi standar empat sehat. Susunya diberikan terpisah dan gratis kepada pegawai sebanyak 1 liter per minggu. "Itu wajib kami sediakan dan diminum untuk pegawai yang bekerja di bawah tanah untuk detoksifikasi," tutur Hengky.

    Tambang bawah tanah PT. Freeport Indonesia di Mimika Papua, 14 Februari 2015. 14/2). Nurhadi Sabirin mengatakan total investasi untuk membangun keseluruhan tambang bawah tanah mencapai USD16 miliar atau sekitar Rp200 triliun. ANTARA/M Agung Rajasa

    Sarana tempat ibadah pun disediakan perusahaan ini. Freeport membangun masjid dan gereja secara berdampingan di tambang bawah tanah. Masing-masing bisa diisi jemaah maksimal 250 orang. Selain itu, terdapat klinik yang bisa menampung 20 pasien dengan dokter jaga di dalamnya.

    Sifat perawatan klinik itu hanya sementara untuk kasus darurat yang harus ditangani segera atau butuh pertolongan awal. Selanjutnya pegawai tetap dikirim ke rumah sakit di luar tambang untuk tindak lanjut. Adapun jatah medical check up gratis setiap enam bulan sekali untuk memantau kesehatan para pekerja.

    Berita Terbaru: Apes, Pencuri Ini Terjebak di Mobil Curian

    Risiko bekerja di bawah tanah juga disadari manajemen dengan membangun ruang evakuasi. Ada beberapa ruang evakuasi, tapi yang terbesar bisa menampung 300 orang. Di ruang evakuasi itu disediakan perbekalan makanan, air, telepon, obat-obatan, dan tabung oksigen. Perlengkapan ini bisa membantu bertahan hidup hingga tiga hari jika kemungkinan buruk terjadi di area tambang.

    Grasberg Mine milik PT. Freeport Indonesia di Tembagapura, Mimika, Timika, Papua, 15 Februari 2015. Executive Vice President dan General Manager Operational Freeport, Nurhadi Sabirin mengatakan terdapat peluang tambang tersebut menjadi tempat wisata setelah wilayah itu habis masa eksplorasinya. ANTARA/M Agung Rajasa

    Fasilitas itu tentu tak berjalan tanpa ada instalasi listrik dan teknologi untuk menyediakan udara yang cukup bagi pekerja. Untuk mengatur udara atau ventilasi, Freeport menempatkan lima kipas raksasa yang tugasnya mengisap udara kotor dari lokasi tambang dan menggantinya dengan udara bersih.

    Daya isapnya jelas luar biasa. Tiap kipas membutuhkan pasokan energi 2.200 kilowatt. Sedangkan instalasi listrik untuk lampu-lampu dan yang lain membutuhkan 34,5 KW. Menurut Hengky, semua fasilitas itu menelan investasi hingga US$ 1,5 miliar atau sekitar Rp 18 triliun. "Masih ada beberapa tambahan fasilitas nantinya jika tambang mulai produksi."

    GUSTIDHA BUDIARTIE

    Berita Terpopuler
    Nanan Soekarna: Kami Konvoi, Wajar Dikawal Polisi
    Trigana Air yang Jatuh di Oksibil Bawa Dana Rp 6,5 Miliar
    Soeharto Diusulkan Menjadi Pahlawan Perintis Kemerdekaan

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dampak Screen Time pada Anak dan Cara Mengontrol

    Sekitar 87 persen anak-anak berada di depan layar digital melebihi durasi screen time yang dianjurkan.