Mentan: Harga Daging Ditargetkan Stabil di Rp 80-90 Ribu  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerja memotong daging sapi yang sudah disembelih sebelum didistribusikan ke sejumlah pasar di Rumah Potong Hewan PD Dharma Jaya, Cakung, Jakarta, 14 Agustus 2015. Rumah Pemotongan ini berhenti beroperasi karena pedagang daging sapi mogok berjualan. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    Pekerja memotong daging sapi yang sudah disembelih sebelum didistribusikan ke sejumlah pasar di Rumah Potong Hewan PD Dharma Jaya, Cakung, Jakarta, 14 Agustus 2015. Rumah Pemotongan ini berhenti beroperasi karena pedagang daging sapi mogok berjualan. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Pertanian Amran Sulaiman menargetkan harga daging sapi stabil pada Rp 80-90 ribu per kilogram. Bulog akan mewakili pemerintah sebagai stabilitator harga agar tidak ada persoalan daging ke depan. "Jadi ke depan solusinya adalah BUMN melakukan impor, dalam hal ini Bulog," katanya di kompleks Istana Merdeka, Senin, 17 Agustus 2015.

    Amran berujar, saat ini ada stok 198 ribu ekor sapi dari 41 feedloter (penggemukan sapi). Pasokan ini diprediksi aman untuk memenuhi kebutuhan daging dalam tiga-empat bulan ke depan. Sebanyak 35 pengusaha penggemukan sapi telah menandatangani komitmen untuk menurunkan harga ke kondisi normal.

    "Jadi kemarin itu itu janjinya turun, dan kami cek benar turun. Dari Banten kemudian dari Cianjur turun sejak kemarin," ucapnya.

    Amran menjelaskan, saat Ramadan lalu, harga daging sapi di feedloter Rp 37 ribu per kilogram.   Namun, seusai Ramadan, harga naik berturut-turut Rp 43 ribu, Rp 44 ribu, dan Rp 45 ribu per kilogram.

    Amran mempertanyakan penyebab naiknya harga daging sapi, apakah karena biaya pakan atau faktor lain. Sebab, menurut dia, pasokannya cukup. "Akhirnya semua sepakat menurunkan menjadi Rp 38 ribu per kilogram," ujarnya.

    ALI HIDAYAT



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Perpres Investasi Miras

    Pemerintah terbitkan perpres investasi miras, singkat dan minuman keras. Beleid itu membuka investasi industri minuman beralkohol di sejumlah daerah.