Hingga Akhir Tahun Ini Neraca Pembayaran Belum Bisa Surplus

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang pengunjung melintas di depan poster gambar Pelabuhan Indonesia dalam acara Indonesia International Infrastructure and Exhibition, Jakarta Convention Centre, Rabu (13/11). Kinerja ekspor Indonesia pada 2013 diperkirakan belum dapat pulih sepenuhnya setelah mengalami defisit neraca perdagangan beberapa kali sepanjang 2012 sedangkan perkembangan impor barang ke Indonesia diperkirakan akan tetap meningkat. TEMPO/Imam Sukamto

    Seorang pengunjung melintas di depan poster gambar Pelabuhan Indonesia dalam acara Indonesia International Infrastructure and Exhibition, Jakarta Convention Centre, Rabu (13/11). Kinerja ekspor Indonesia pada 2013 diperkirakan belum dapat pulih sepenuhnya setelah mengalami defisit neraca perdagangan beberapa kali sepanjang 2012 sedangkan perkembangan impor barang ke Indonesia diperkirakan akan tetap meningkat. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Setelah berbalik defisit pada kuartal II/2015, neraca pembayaran Indonesia (NPI) diproyeksikan tidak bisa kembali surplus hingga akhir tahun karena gejolak pasar keuangan masih belum bisa stabil.

    Pakar ekonomi politik Ichsanuddin Noorsy mengatakan gejolak pasar keuangan masih dibayangi ketidakpastian global. Sementara, di saat yang bersamaan, transaksi berjalan (current account) masih dalam posisi defisit meskipun menciut sejalan dengan perlambatan ekonomi nasional.

    “Selama imbal hasil di Indonesia tidak menguntungkan portofolio investment kabur. Terpukul lagi neraca pembayarannya,” katanya di sela-sela diskusi, Sabtu (15 Agustus 2015).

    Menurutnya, ada tiga kondisi yang masih akan berpengaruh besar pada pasar keuangan global yang berimbas pada tertekannya kembali nilai tukar rupiah. Pertama, keputusan penaikkan suku bunga the Federal Reserve.

    Kedua, persetujuan atau penolakan kongres terhadap kesepakatan Presiden Amerika Serikat Obama dengan Iran terkait kesepakatan nuklir. Menurutnya, hasil kongres akan memengaruhi permasalahan produk dan harga minyak.

    Seperti diketahui, baru-baru ini Obama melancarkan upaya untuk mempertahankan kesepakatan nuklir Iran serta memperingatkan potensi terjadinya perang di Timur Tengah apabila Kongres menghalangi kesepakatan tersebut.

    Ketiga, situasi perang antara Amerika Serikat dan Rusia diikuti pemulihan Uni Eropa. “Kalau ini terjadi, rupiah kena, jadi bukan hanya pada currency war semata tapi juga ICP war. Ini sudah masuk economics war,” tegasnya.

    Dalam data NPI kuartal II yang dirilis Bank Indonesia (BI) kemarin (14 Agustus 2015) disebutkan defisit transaksi berjalan menyempit di posisi US$4,5 miliar dari posisi periode yang sama tahun lalu US$9,6 miliar.

    Namun, di saat yang bersamaan, surplus dari transaksi modal dan finansial juga ikut tergerus dalam menjadi US$2,5 miliar dari posisi tahun lalu senilai US$13,9 miliar. Bahkan posisi kuartal I/2015 masih mencatatkan surplus US$6,3 miliar.

    Penyempitan surplus modal dan finansial tersebut pada akhirnya tidak dapat membiayai sepenuhnya CAD kendati sudah ikut turun sejalan dengan perlambatan ekonomi nasional. Kondisi ini membuat neraca keseluruhan kembali US$2,93 miliar.

    Ichsanuddin menyatakan dari sisi investasi langsung asing (foreign direct investment/FDI) pun tidak bisa ikut menolong dalam waktu dekat. Kondisi ini dikarenakan adanya peningkatan jeda waktu antara kejahatan satu dengan yang lainnya, masih adanya konflik sosial, dan masih berantakannya koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah yang berimbas pada iklim investasi.

    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Waspadai Komplikasi Darah Akibat Covid-19

    Komplikasi darah juga dapat muncul pasca terinfeksi Covid-19. Lakukan pemeriksaan preventif, bahan ketiksa sudah sembuh.