Rumah Murah, REI Sulawesi Utara Baru Penuhi 1.300 Unit  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Para pekerja memasangkan kerangka atap salah satu unit perumahan murah di kawasan Moncongloe, Makassar, 26 Februari 2015. Saat ini suku bunga kredit rumah di BTN sudah turun menjadi 10,5% hingga 11% dari sebelumnya sebesar 11,5%. Bahkan, rencananya pemerintah akan menurunkan suku bunga kredit hingga 10%. TEMPO/Iqbal Lubis

    Para pekerja memasangkan kerangka atap salah satu unit perumahan murah di kawasan Moncongloe, Makassar, 26 Februari 2015. Saat ini suku bunga kredit rumah di BTN sudah turun menjadi 10,5% hingga 11% dari sebelumnya sebesar 11,5%. Bahkan, rencananya pemerintah akan menurunkan suku bunga kredit hingga 10%. TEMPO/Iqbal Lubis

    TEMPO.CO, Jakarta - Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (REI) di Sulawesi Utara merealisasikan proyek rumah murah sebanyak 1.300 unit dari target 3.900 unit. Rumah murah tersebut merupakan bagian dari komitmen REI mewujudkan Program Sejuta Rumah pada tahun ini.

    Mayoritas rumah murah itu terletak di luar Manado, antara lain Minahasa Utara dan wilayah yang berbatasan dengan Minahasa Induk. “Target tahun ini tumbuh dari 2014 sebanyak 2.800 unit rumah murah. Saya rasa, dengan menurunnya daya beli saat ini, appetite pasar kembali ke rumah bersubsidi,” kata Ketua REI Sulut William Tanos kepada Bisnis.com, Kamis 13 Agustus 2015.

    Menurutnya, tren pelemahan pasar properti secara nasional mulai menjalar ke wilayah Sulut pada 2013. Sejak saat ini, dirinya mengungkapkan pertumbuhan terus melambat. Khusus kawasan Manado, pertumbuhan pasar properti lebih bertumpu pada segmen ritel, terutama landed house. Sebaliknya, segmen korporasi, ucapnya, perlahan semakin menurun.

    Pasalnya, beberapa proyek besar di Manado tergantung ekspansi yang dilakukan oleh perusahaan pengembang nasional yang berada di Jakarta. “Untuk saat ini, proyek-proyek baru belum ada, kebanyakan ya yang existing saja seperti Grup Lippo,” tambahnya.

    Jika dilihat berdasarkan segmen kelas ekonomi, William menjelaskan pasar properti di segmen bawah mulai menunjukkan eksistensinya karena segmen lainnya yakni menengah dan mewah diakuinya masih stagnan. “Penyerapan anggaran Pemerintah Provinsi Sulut yang rendah, harga komoditas unggulan Sulut yakni cengkeh dan kopra yang meluncur turun memangkas daya beli masyarakat,” katanya.

    Sebelumnya, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Area Manado mengeluhkan outstanding Kredit Pemilikan Rumah (KPR) mengalami penurunan per Juni 2015. Salah satu faktor yang diklaim menjadi penyebabnya adalah aturan Bank Indonesia yang melarang penjualan rumah inden.

    “Ini sedang kami evaluasi. Dari sekitar 56 developer, kan tidak semua menjual rumah inden sedangkan pengembang yang tidak memiliki persediaan rumah maka terpaksa dievaluasi,” kata Assistant Vice President Bank Mandiri Area Manado Iip Suitman. Ia menambahkan tingkat kredit bermasalah di segmen KPR cukup tinggi, tak jauh berbeda dengan sektor pertanian.

    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pemerintah Pangkas 5 Hari Cuti Bersama 2021 dari 7 Hari, Tersisa 2 Hari

    Pemerintah menyisakan 2 hari cuti bersama 2021 demi menekan lonjakan kasus Covid-19 yang biasa terjadi usai libur panjang.