Penjual Daging Sapi Mogok, Apa Langkah Menteri Perdagangan?

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pedagang tertidur di atas meja kios daging yang kosong di Blok III pasar Senen, Jakarta , 9 Agustus 2015. Aksi mogok berjualan daging ini juga dilakukan di sejumlah daerah. TEMPO/M Iqbal Ichsan

    Pedagang tertidur di atas meja kios daging yang kosong di Blok III pasar Senen, Jakarta , 9 Agustus 2015. Aksi mogok berjualan daging ini juga dilakukan di sejumlah daerah. TEMPO/M Iqbal Ichsan

    TEMPO.COJakarta - Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Srie Agustina mengatakan saat ini instansinya tengah melakukan pembahasan mengenai mogoknya para pedagang sapi akibat semakin tingginya harga daging. 

    "Kita sedang tindak lanjuti," ujar Srie kepada Tempo melalui pesan pendek pada Ahad, 9 Agustus 2015.

    Srie mengaku belum bisa berbicara banyak terkait dengan pasokan daging yang langka di pasar sehingga harga jual menjulang tinggi. Dia hanya menjelaskan, untuk keluar dari persoalan tersebut, yang harus dilakukan adalah memenuhi kebutuhan pasokan. "Intinya, mereka butuh pasokan yang cukup," kata Srie.

    Ketika ditanya lebih lanjut terkait dengan kemungkinan kuota impor apakah akan ditambah, dia belum mau berkomentar. "Saya belum bisa komentar dulu. Saat ini masih rapat, masih dilakukan pembahasan dan tindak lanjutnya bagaimana," tuturnya.

    Sebelumnya, Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri nonaktif Partogi Pangaribuan mengatakan keran impor sapi bakalan untuk kuartal III tahun ini hanya 50 ribu ekor. "Hanya 50 ribu dari Australia pada kuartal III," ucap Partogi di kantornya, Senin, 13 Juli 2015.

    Impor sapi pada kuartal III ini menurun dibandingkan kuartal sebelumnya. Pada kuartal II tahun ini, periode April hingga Juni, pemerintah mengizinkan 250 ribu ekor sapi bakalan, 29 ribu sapi potong, dan 1.000 ton secondary cut. Sedangkan untuk kuartal I Januari hingga Maret 2015, izin impornya sebanyak 75 ribu ekor.

    Terus menurunnya kuota impor sapi, kata Partogi, disengaja agar peternak sapi lokal bisa mengembangkan industri dalam negeri. "Kita juga harus hargai peternak dalam negeri," kata Partogi. Besaran impor sapi tersebut juga berdasarkan rekomendasi dari Kementerian Pertanian.

    Namun, karena dikuranginya impor tersebut, keberadaan sapi di pasar semakin langka. Akibatnya, sejumlah pedagang sapi di Bandung dan Jakarta mogok karena harga jual daging yang tinggi.

    DEVY ERNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menghilangkan Bau Amis Ikan, Simak Beberapa Tipsnya

    Ikan adalah salah satu bahan makanan yang sangat kaya manfaat. Namun terkadang orang malas mengkonsumsinya karena adanya bau amis ikan yang menyengat.