67 Persen Pengguna Handphone Berbelanja Lewat Smartphone

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Belanja OnLine. dailymail.co.uk

    Belanja OnLine. dailymail.co.uk

    TEMPO.CO, Jakarta - Benda apa yang Anda cari begitu membuka mata di pagi hari? Tentu tidak sedikit yang langsung mencari gadget-nya, kemudian memeriksa pesan singkat dan e-mail yang masuk. Tidak heran perilaku sebagian besar masyarakat ini mendorong peningkatan penetrasi smartphone di Indonesia. Rilis data terbaru yang dikeluarkan oleh Google menunjukkan peningkatan angka penetrasi smartphone di Indonesia meningkat dari 28 persen di tahun lalu menjadi 43 persen.

    Persentase ini menggambarkan hampir setengah penduduk di Indonesia menggunakan  smartphone dalam kegiatan sehari-hari. Perlu diingat, Indonesia merupakan negara keempat dengan penduduk terbanyak. Tentu ini menjadi pasar yang empuk baik bagi perusahaan smartphoneover-the-top (OTT), dan operator telekomunikasi penyedia layanan data.

    Head Marketing Google Indonesia Veronica Utami belum lama ini memaparkan Indonesia merupakan salah satu dari 21 negara di dunia pengguna smartphone lebih banyak dibandingkan penggunaan perangkat komputer. "Sekitar 30 persen dari pemilik smartphone ini melakukan penelusuran dengan perangkatnya setidaknya satu kali dalam seminggu,” ujarnya.

    Selain itu, CMO Google Asia Pasific Simon Kahn mengatakan 67 persen dari pemilik smartphone di Indonesia berbelanja langsung di handphone mereka, dan juga adanya pengaruh langsung dari smartphone pada saat mereka berbelanja di toko.

    “Kini para konsumen telah menjalani kehidupannya secara online, tidak jauh dari sejumlah layar dan perangkat. Maka menjadi penting bagi para brand untuk hadir pada saat preferensi dibentuk dan keputusan dibuat oleh konsumen,” ujar Kahn.

    Persentase ini seharusnya bisa dijadikan peluang bagi pelaku bisnis, seperti E-Commerce dan Usaha Kecil Menengah (UKM) di Indonesia. Dalam kesempatan yang berbeda, VP Marketing Elevania.com Madelaine Ong, sebuah platform marketplace, mengungkapkan terdapat sekitar 55,2 juta UKM di Indonesia. Namun sayangnya, baru 0,05 persen yang mulai menjajaki pasar online.

    Padahal 59,36 persen GDP Indonesia berasal dari UKM. Angka ini menunjukkan tingginya penggunaan Internet di Indonesia tidak diikuti oleh tingginya UKM yang mulai mengubah bisnis model menjadi digital. Padahal, sektor ini memiliki peluang emas untuk meningkatkan penjualan melihat pola perilaku masyarakat Indonesia menggunakan smartphone dan Internet.

    Pemerintah tampaknya sudah mulai melihat sektor E-Commerce ini sebagai sektor yang harus mulai diperjelas alur jalannya agar dapat bertumbuh dan berkembang. Langkah pertama yang mulai diatur adalah peta jalan yang tengah digodok oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika bersama Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) serta beberapa stakeholder terkait.

    Beberapa waktu lalu, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara sempat mengemukakan peta jalan ini nantinya akan keluar dalam bentuk tatanan regulasi yang mendukung E-Commerce di Indonesia.

    “Nanti dari peta jalan akan diatur hal terkait tahun ke berapa akan ada aturan apa, sektor mana yang harus mengeluarkan aturan. Namanya peta jalan akan mengarahkan ke mana dan siapa yang melakukan apa dan kapan,” ia menjelaskan.

    Menkominfo mengutarakan beberapa contoh negara yang memiliki potensi tinggi terhadap E-Commerce telah membuat peta jalan seperti Cina dan Amerika. Dia memaparkan, E-Commerce di Cina digerakkan oleh pemerintah. Regulator yang mengeluarkan kebijakan dan melihat bagaimana pertumbuhan pasar terhadap regulasi.

    Lain lagi dengan model peta jalan E-Commerce di Amerika. Di negara tersebut, E-Commerce digerakkan dan ditentukan oleh pasar. Melihat potensi E-Commerce di Indonesia, maka dirasa perlu memiliki peta jalan yang dapat mendorong pertumbuhan industri.

    Selain itu, Rudiantara pun memaparkan peta jalan tersebut akan membagi segmentasi E-Commerce menjadi tiga lini. Pertama, perusahaan rintisan (startup) yang benar-benar mulai dari nol. Kedua, Usaha Kecil dan Menengah (UKM) yang berjumlah 55 juta di Indonesia agar bisa didorong memasuki E-Commerce. Ketiga, E-Commerce yang sudah establish.

    Ketua Umum Indonesia E-Commerce Association (idEA) Daniel Tumiwa pun menyambut positif peta jalan yang tengah digodok. Namun Daniel menekankan peta jalan E-Commerce harus memberikan ruang untuk start up E-Commerce berkembang dengan cara yang sama dengan usia perusahaan rintisan tersebut.

    Selain peta jalan yang digodok dengan idEA, Kemenkominfo dan beberapa stakeholder terkait. Asosiasi yang serupa bersama Kementerian Perdagangan pun tengah menggodok Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) E-Commerce.

    Pada akhirnya, baik peta jalan dan RPP E-Commerce yang tengah digodok ini diharapkan dapat memaksimalkan potensi yang dimiliki oleh pelaku bisnis Indonesia, serta bukan menyuburkan lahan usaha negara lain. Namun tentunya tidak membuat pelaku usaha dan UKM segan memasuki penjualan dunia digital yang sebenarnya memiliki peluang emas jika digarap dengan tepat.

    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pemerintah Pangkas 5 Hari Cuti Bersama 2021 dari 7 Hari, Tersisa 2 Hari

    Pemerintah menyisakan 2 hari cuti bersama 2021 demi menekan lonjakan kasus Covid-19 yang biasa terjadi usai libur panjang.