Kekurangan Modal, Indonesia AirAsia Berencana Terbitkan Surat Utang

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • CEO Air Asia, Tony Fernandes berbincang dengan Presiden Direktur Air Asia Indonesia, Sunu Widyatmoko, di ruang Crisis Centre, Terminal 2, Bandara International Juanda, Surabaya, Minggu 28 Desember 2014. Kedatangan CEO Air Asia ini terkait dengan hilangnya pesawat Air Asia 8501 dengan rute pernerbangan Surabaya-Singapura. TEMPO/Fully Syafi.

    CEO Air Asia, Tony Fernandes berbincang dengan Presiden Direktur Air Asia Indonesia, Sunu Widyatmoko, di ruang Crisis Centre, Terminal 2, Bandara International Juanda, Surabaya, Minggu 28 Desember 2014. Kedatangan CEO Air Asia ini terkait dengan hilangnya pesawat Air Asia 8501 dengan rute pernerbangan Surabaya-Singapura. TEMPO/Fully Syafi.

    TEMPO.CO , Jakarta - Indonesia AirAsia harus berusaha keras mencari modal untuk membuat  rapor keuangannya tak merah lagi. Ekuitas Indonesia AirAsia yang negatif membuat izin operasional maskapai penerbangan berbiaya murah (low cost carrier/LCC) ini terancam dicabut.

    Salah satu upaya yang dilakukan maskapai ini adalah menerbitkan obligasi atau surat utang. "Kami memang berencana untuk penerbitkan obligasi guna menggalang pendanaan," ucap Direktur Utama Indonesia AirAsia Sunu Widyatmoko, di Jakarta, Rabu, 5 Agustus 2015, seperti dilansir dari The Malaysian Insider.

    Namun Sunu tidak menyebutkan nilai obligasi yang akan diterbitkan oleh perusahaan. Ia mengakui pemilik saham Indonesia AirAsia dari Indonesia sudah berkomitmen untuk menambahkan modalnya.

    Per akhir 2014, 51 persen saham Indonesia AirAsia masing-masing dikuasai oleh Komisaris Utama Indonesia AirAsia Darmadi Pin Harris sebanyak 20 persen, Senjaya Wijaya sebanyak 21 persen, dan PT Fersindo Nusaperkasa sebesar 10 persen. "Sementara ini sudah ada komitmen dari pemegang saham dalam negeri," ujar Sunu, tanpa menyebutkan nominal modal yang akan ditambahkan.

    Sebelumnya, Kementerian Perhubungan menyatakan Indonesia AirAsia belum berhasil menambah modalnya sampai akhir Juli lalu. Penguasa penerbangan rute internasional itu merupakan satu di antara tiga maskapai yang belum berhasil mengubah ekuitasnya menjadi positif. “Hanya ada surat kesanggupan memenuhi syarat ekuitas dari mereka,” ujar Menteri Perhubungan Ignasius Jonan di Jakarta kemarin.

    Awal Juli lalu, Kementerian Perhubungan mengumumkan izin operasional 13 maskapai penerbangan terancam dicabut karena ekuitas perusahaan negatif. Mereka di antaranya Indonesia AirAsia dan Batik Air. Kementerian lalu memberi waktu sampai akhir Juli buat 13 perusahaan itu untuk menambah modal. Namun Indonesia AirAsia, Tri MG Intra Asia, dan Cardig Air belum bisa memenuhinya. “AirAsia minta waktu sampai akhir September,” kata Jonan.

    Sunu Widyatmoko mengakui perusahaannya meminta toleransi waktu sampai September untuk menambah modal. Ia yakin AirAsia bisa mendapat suntikan modal segar sampai September mendatang. “Kami sebenarnya sudah ada rencana tambah rute, tapi kami akan mematuhi peraturannya,” ujarnya.

    KHAIRUL ANAM | SETIAWAN ADIWIJAYA | THE MALAYSIAN INSIDER


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Data yang Dikumpulkan Facebook Juga Melalui Instagram dan WhatsApp

    Meskipun sudah menjadi rahasia umum bahwa Facebook mengumpulkan data dari penggunanya, tidak banyak yang menyadari jenis data apa yang dikumpulkan.