Pertumbuhan Ekonomi Turun Lagi di Triwulan II 2015

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala Badan Pusat Statistik Dr. Suryamin saat pemaparan data Statistik di Gedung Badan Pusat Statistik, Jakarta, Senin (2/1). TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

    Kepala Badan Pusat Statistik Dr. Suryamin saat pemaparan data Statistik di Gedung Badan Pusat Statistik, Jakarta, Senin (2/1). TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

    TEMPO.CO, Jakarta - Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II 2015 mengalami penurunan. Kepala Badan Pusat Statistik Suryamin mengatakan pertumbuhan ekonomi di kuartal II sebesar 4,67 persen secara year on year. Pertumbuhan itu melambat dibanding kuartal II 2014 yang tumbuh 5,03 persen dan kuartal I 2015 yang berada di angka 4,72 persen.

    "Dibanding negara lain kita masih lebih baik," kata Suryamin di kantor BPS Pusat, Jakarta, Rabu, 5 Agustus 2015.

    Suryamin mengatakan beberapa negara mitra dagang Indonesia mengalami stagnasi dan penurunan pertumbuhan. Amerika Serikat, misalnya, pertumbuhannya merosot pada triwulan II 2015 dari 2,9 persen ke 2,3 persen. Lalu Cina mandek di angka 7 persen dan Singapura melemah dari 2,1 persen ke 1,7 persen.

    Kendati ada pelemahan, Suryamin menegaskan kalau ekonomi Indonesia jauh dari resesi. Menurut dia, ekonomi bisa disebut resesi minimal selama dua triwulan berturut-turut berada di level negatif. "Sekarang masih di atas 4 persen."

    Suryamin mengatakan dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi didorong jasa pendidikan yang tumbuh 12,16 persen. Sedangkan di sisi pengeluaran komponen dengan pertumbuhan tertinggi disumbang oleh pengeluaran konsumsi rumah tangga yang tumbuh 4,97 persen.

    Sementara itu, struktur ekonomi Indonesia secara spasial pada kuartal II 2015 didominasi oleh provinsi di Jawa dan Sumatera. Provinsi di Jawa memberikan kontribusi terbesar terhadap produk domestik bruto, yakni 58,35 persen.

    Sedangkan Sumatera sebesar 22,31 persen, diikuti Kalimantan 8,22 persen. PDB atas dasar harga berlaku kuartal II 2015 mencapai Rp 2.866,9 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp 2.239,3 triliun.

    ADITYA BUDIMAN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jangan Unggah Sertifikat Vaksinasi Covid-19 ke Media Sosial

    Menkominfo Johnny G. Plate menjelaskan sejumlah bahaya bila penerima vaksin Sinovac mengunggah atau membagikan foto sertifikat vaksinasi Covid-19.