Mengapa Ekonomi Indonesia Lesu? Ini Penjelasan Menkeu

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • (kiri-kanan) Gubernur BI Agus D.W. Martowardojo, Menkumham Yasonna H Laoly, Menkeu Bambang P.S. Brodjonegoro dan Menteri Perencanaan Pembangunan/Kepala Bappenas Andrinof Chaniago dalam Rapat Kerja bersama Banggar DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, 19 Januari 2015. Rapat tersebut membahas Pembicaraan Tk.I/Pembahasan RUU tentang Perubahan APBN TA 2015. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    (kiri-kanan) Gubernur BI Agus D.W. Martowardojo, Menkumham Yasonna H Laoly, Menkeu Bambang P.S. Brodjonegoro dan Menteri Perencanaan Pembangunan/Kepala Bappenas Andrinof Chaniago dalam Rapat Kerja bersama Banggar DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, 19 Januari 2015. Rapat tersebut membahas Pembicaraan Tk.I/Pembahasan RUU tentang Perubahan APBN TA 2015. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.COJakarta - Menteri Keuangan Bambang P.S. Brodjonegoro mengatakan, di tengah perlambatan global, fundamental ekonomi Tanah Air masih terjaga. Kondisi ini akan terus dipertahankan dengan menjaga stabilitas keuangan. "Sambil secara perlahan mendorong pertumbuhan," kata Bambang di kantor Bank Indonesia, Selasa, 4 Agustus 2015.

    Perlambatan ekonomi diklaim Bambang terjadi karena tekanan global imbas memburuknya ekonomi Cina setelah berjaya selama dua dekade terakhir. Selain itu, kondisi ekonomi Amerika Serikat membaik sehingga nilai tukar dolar, khususnya terhadap rupiah, kian menguat.

    Bambang menambahkan, untuk mendorong pertumbuhan, pemerintah menjagokan komponen belanja pemerintah. Bambang optimistis belanja bisa mencapai 80 persen hingga akhir tahun.

    Saat ini pun, kata Bambang, sudah ada sekitar Rp 900 triliun duit negara yang tersebar di masyarakat. Kondisi ini dianggap bagus untuk merangsang pertumbuhan, khususnya industri yang signifikan seperti padat karya dan manufaktur.

    Bambang berjanji stimulus dan insentif tetap dilakukan guna merangsang investasi swasta. "Kondisi ini jauh berbeda dibanding saat krisis 1997 karena waktu itu fundamental ekonomi rapuh." 

    Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo mengatakan makro ekonomi Indonesia masih terbilang baik. Angka inflasi yang bertengger di 0,93 persen dan defisit transaksi berjalan yang menurun ke 2,3 persen adalah sentimen bagus untuk fundamental ekonomi Tanah Air. "Neraca perdagangan juga surplus," ucapnya. 

    Menurut Agus, depresiasi rupiah masih lebih baik bila dibandingkan negara berkembang lain. Secara tahunan, depresiasi rupiah memang mencapai 8 persen. Namun, secara month to date, depresiasi hanya 1 persen, sementara negara-negara ASEAN mencapai lebih dari 1,5 persen.

    Volatilitas rupiah juga dianggap membaik karena berada pada kisaran 8 persen. Sedangkan negara lain, seperti Turki dan Afrika Selatan saja, mencapai 10 persen.

    ROBBY IRFANY


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    KPU Tetapkan Aturan Baru Perihal Kampanye Pilkada Serentak 2020

    Pilkada Serentak 2020 tetap dilaksanakan pada 9 September pada tahun yang sama. Untuk menghadapi Covid-19, KPU tetapkan aturan terkait kampanye.