Musim Kemarau, Harga Beras Masih Normal  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petani di Serang memanen padi lebih dini untuk menghindari kekeringan akibat musim kemarau. TEMPO/Darma Wijaya

    Petani di Serang memanen padi lebih dini untuk menghindari kekeringan akibat musim kemarau. TEMPO/Darma Wijaya

    TEMPO.CO , Bandung:Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Barat Fery Sofwan Arief mengatakan, harga beras masih normal. “Harga beras masih belum terpengaruh, dan stok di Bulog dan di gudang-gudang pedagang beras masih ada. Semoga bantuan pompa dan sebagainya bisa menangani urusan kekeringan,” kata dia saat dihubungi Senin, 3 Agustus 2015.

    Fery mengatakan, pengaruh kekeringan terhadap harga beras baru akan terasa nanti saat produksi beras turun akibat kekeringan. “Belum ada pengaruhnya sampai saat ini, namun kita harus meliaht jangka panjang. Itu bagian upaya bersama untuk bisa mengatasi jangan sampai terjadi peningkatan harga beras,” kata dia.

    Menurut Fery, kenaikan harga beras sempat terjadi sepanjang Juli kendati tidak signifikan. Sejumlah faktor penyebabnya, selain dampak kenaikan konsumsi sepanjang Ramadhan hingga Hari Raya Lebaran juga akibat naiknya Harga Pembelian Pemerintah. “Tapi kenaikan harga beras masih terjaga dibandingkan dengan komoditas lain,” kata dia.

    Kepala Bidang Statistik Distribusi BPS Jawa Barat Dody Gunawan Yusuf mengatakan, memasuki musim kemarau harga beras harus terus dalam pengawasan.

    “Harus kita awasi karena masuk musim paceklik. Tinggal peran Bulog supaya kenaikan harganya tidak terlalu tinggi,” kata dia di Bandung, Senin, 3 Agustus 2015.

    Dody mengatakan, beras termasuk salah satu komoditas yang menyumbang signifikan terhadap inflasi. Sepanjang Juli 2015 misalnya, kenaikan harga beras tercatat rata-rata 2,3 persen.

    “Kenaikannya itu mempengaruhi inflasi sampai 0,08 persen. Misalnay di Kota Bandung, kenaikan yang tertinggi itu beras IR/64 rata-rata kenaikannya sampai 6 persen,” kata dia.

    Badan Pusat Statistik melansir inflasi di Jawa Barat sepanjang Juli 2015 sebesar 0,79 persen. “Masih di bawah inflasi nasional 0,93 persen,” kata dia.

    Dody mengatakan, sepanjang Juli semua kota di Jawa Barat mengalami inflasi, dengan inflasi tertinggi di Kota Depok sebesar 0,95 persen. Dengan inflasi 0,79 persen tersebut inflasi tahun kalender Jawa Barat masih 1,53 persen.

    “Masih lebih baik dibandingkan periode yang sama sejak tahun 2012” kata dia.

    Menurut Dody, semua kelompok pengeluaran mengalami inflasi, yang tertinggi adalah angkutan antar kota dan beras. Angkutan antar kota mengalami inflasi terkait kenaikan tarif angkutan saat angkutan Lebaran belum lama ini. “Tapi bulan ini akan normal lagi,” kata dia.

    Dody mengatakan, target inflasi Jawa Barat hingga akhir tahun 5 persen plus minus 1 masih bisa tercapai jika tidak ada lonjakan harga di beberapa komoditas hingga akhir tahun. Selain beras, kenaikan harga barang yang diatur pemerintah seperti Bahan Bakar Minyak, gas bersubsidi, serta tarif listrik bisa memicu inflasi. “Kalau pun ada kenaikan harus dilihat momentumnya kapan,” kata dia.

    Menurut Dody, kenaikan harga BBM misalnya kemungkinan sulit diredam akibat melemahnya nilai tukar rupiah kendati harga minyak dunia cenderung turun. Dia berharap, pemerintah memilih menaikkan harga BBM itu saat inflasi rendah.

    Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Barat mencatat harga beras medium IR/64 di lima pasar tradisional di Kota Bandung hari ini, Senin, 3 Agustus 2015 tercatat berkisar Rp 9.500 hingga Rp 10 ribu per kilogram. Sepekan ini harga sempat turun berkisar Rp 300 hingga Rp 500 per kilogram kendati naik lagi ke harga semula.

    AHMAD FIKRI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Data yang Dikumpulkan Facebook Juga Melalui Instagram dan WhatsApp

    Meskipun sudah menjadi rahasia umum bahwa Facebook mengumpulkan data dari penggunanya, tidak banyak yang menyadari jenis data apa yang dikumpulkan.