Cari Pasar Ekspor Baru, Jokowi Bentuk Tim Supervisi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Presiden Jusuf Kalla (kanan), berbincang dengan Menteri Koordinator Perekonomian, Sofyan Djalil, sebelum dimulainya rapat terbatas di Kantor Presiden, Jakarta, 12 Maret 2015. TEMPO/Subekti

    Wakil Presiden Jusuf Kalla (kanan), berbincang dengan Menteri Koordinator Perekonomian, Sofyan Djalil, sebelum dimulainya rapat terbatas di Kantor Presiden, Jakarta, 12 Maret 2015. TEMPO/Subekti

    TEMPO.COJakarta - Menteri Koordinator Perekonomian Sofyan Djalil mengatakan Presiden Joko Widodo berencana membentuk sebuah tim supervisi ekspor. Tugas mereka adalah mencari negara baru tujuan ekspor serta mendalami kesesuaian pasarnya, yang kemudian dicocokkan dengan potensi yang dimiliki oleh Indonesia. 

    Menurut Sofyan, Presiden Jokowi ingin Indonesia melakukan diversifikasi pasar untuk menyiasati keadaan ekonomi global yang sedang melemah. "Agar pasarnya tak konvensional. Selama ini, kan, pasarnya konvensional, seperti Cina, Jepang, Korea, Eropa, dan Amerika,"‎ kata Sofyan setelah bertemu dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla di kantor Wakil Presiden, Jakarta, Senin, 3 Agustus 2015. 

    Saat ini, kata Sofyan, masih banyak negara di luar mitra dagang utama yang memiliki potensi ekspor besar. Namun potensi tersebut belum digarap secara maksimal. 

    Salah satu potensi pasar ekspor, kata dia, adalah Iran. Saat ini nilai ekspor Iran hanya US$ 500 juta. Padahal, beberapa tahun lalu, nilainya sempat menembus US$ 2,5 miliar. "Ini yang harus kita intensifkan. Selain itu, ada Turki, juga negara-negara Afrika, tapi belum ada upaya maksimal."‎

    Nantinya tim tersebut akan berada di bawah koordinasi Kementerian Perdagangan serta melibatkan kementerian lain.‎ Sebelum menentukan pasar baru, tim itu akan menentukan produk yang sesuai serta kendala yang dihadapi. ‎

    Misalnya produk kakao dan ikan. Produk itu awalnya susah diekspor ke Amerika. Namun, dengan adanya status preferensi, ekspor ikan ke Negeri Abang Sam jadi lebih mudah. "Begitu juga ke Rusia, kan masih ada beberapa kendala. Nah, itu yang harus didalami dulu," ujar Sofyan. 

    FAIZ NASHRILLAH


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Perpres Investasi Miras

    Pemerintah terbitkan perpres investasi miras, singkat dan minuman keras. Beleid itu membuka investasi industri minuman beralkohol di sejumlah daerah.