Efisiensi BNI, Laba BNI Syariah Naik 50,33 Persen

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mahasiswa sedang membuka rekening baru saat peresmian Mini Banking BNI Syariah kampus Trisakti, Grogol, Jakarta, Rabu (14/3). TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    Mahasiswa sedang membuka rekening baru saat peresmian Mini Banking BNI Syariah kampus Trisakti, Grogol, Jakarta, Rabu (14/3). TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    TEMPO.CO, Jakarta - Laba BNI Syariah pada semester pertama 2015 mencapai Rp99,94 miliar atau naik 50,33 persen dibandingkan periode yang sama 2014 sebesar Rp66,48 miliar.

    "Di tengah kondisi makro ekonomi Indonesia yang mengalami perlambatan, memasuki periode triwulan kedua tahun 2015 BNI Syariah menunjukan kinerja yang positif," sebut rilis yang diterima Antara di Jakarta, Jumat, 31 Juli 2015.

    Total aset BNI Syariah sendiri mengalami kenaikan sebesar 20,19 persen secara tahunan, yaitu meningkat Rp3,37 triliun, dari sebelumnya Rp17,35 triliun (Juni 2014) menjadi Rp20,85 triliun (Juni 2015).

    Pertumbuhan tersebut didorong antara lain oleh pertumbuhan pembiayaan sebesar 25,24 persen secara tahunan menjadi Rp16,74 triliun dimana periode sebelumnya pembiayaan mencapai Rp13,37 triliun.

    Faktor pendorong lainnya adalah bertumbuhnya penghimpunan dana masyarakat sebesar 28,22 persen secara tahunan dari semula Rp13,51 triliun menjadi Rp17,32 triliun.

    Dari total pembiayaan sebesar Rp16,74 triliun sebagian besar merupakan pembiayaan cabang reguler yang meliputi pembiayaan konsumtif 53,17 persen.

    Kemudian diikuti oleh pembiayaan produktif UKM 22,07 persen, selanjutnya disusul oleh pembiayaan komersial 16,15 persen, pembiayaan mikro 6,3 persen, dan pembiayaan kartu Hasanah Card 2,29 persen.

    Pembiayaan konsumtif di dominasi oleh pembiayaan Griya iB Hasanah yaitu dengan komposisi 84,07 persen.

    Pertumbuhan pembiayaan tetap dilakukan dengan hati-hati agar kualitas pembiayaan dapat tetap terjaga dengan baik.

    NPF "gross" di semester ini sebesar 2,42 persen.

    Pembiayaan pada sektor griya sebagai sektor yang mendorong pertumbuhan pembiayaan tetap dilakukan dominan pada segment "first home buyer" dan dengan range harga rumah berkisar Rp200 juta sampai Rp500 juta. Hal ini yang turut menjaga NPF agar tetap rendah.

    Adapun DPK saat ini memiliki kompisisi CASA (dana murah) sebesar 46,86 persen.

    Pertumbuhan laba semester ini juga disumbang dari upaya mempertahankan efisiensi yang dilaksanakan di segenap bidang.

    Adapun dari dana sukuk yang terhimpun sebesar Rp500 miliar pada bulan Mei 2015, sebesar Rp294,56 miliar telah direalisasikan pada pembiayaan, sedangkan sisanya diharapkan akan terserap dalam beberapa bulan ke depan.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Satu Tahun Bersama Covid-19, Wabah yang Bermula dari Lantai Dansa

    Genap satu tahun Indonesia menghadapi pandemi Covid-19. Kasus pertama akibat virus corona, pertama kali diumumkan pada 2 Maret 2020.