Jika Hasil Panen Penuhi Standar, Pengusaha Gunakan Garam Lokal

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dua orang pekerja sedang mengangkat keranjang, yang berisi garam yang telah dipanen. Wilayah tambang ini sudah digunakan sebagai tempat menambang garam, sejak zaman purba. Anana, Spanyol, 17 Juli 2015. Pablo Blazquez Dominguez / Getty Images

    Dua orang pekerja sedang mengangkat keranjang, yang berisi garam yang telah dipanen. Wilayah tambang ini sudah digunakan sebagai tempat menambang garam, sejak zaman purba. Anana, Spanyol, 17 Juli 2015. Pablo Blazquez Dominguez / Getty Images

    TEMPO.CO, Jakarta - Pelaku industri memastikan akan mengutamakan pasokan garam dari dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan produksi aneka pangan jika hasil panen petani memenuhi standar.

    Ketua Umum Asosiasi Pengguna Garam Industri Indonesia (Aipgi) Tony Tanduk mengatakan potensi produksi garam nasional tahun ini akan meningkat sebesar 15- 20 persen, dampak dari El Nino. Menurutnya, dengan kebutuhan garam industri aneka pangan yang diperkirakan sebesar 400.000 ton, dapat menyerap banyak garam lokal.

    Sekarang dari jumlah tersebut seberapa banyak yang memiliki kualitas satu, sehingga industri dapat menggunakannya. Kami memastikan, industri akan menyerap langsung garam dari sentra-sentra produksi, tuturnya, Jumat, 24 Juli 2015.

    Menurut data Aipgi, secara keseluruhan kebutuhan garam industri Tanah Air mencapai 2,5 juta ton, yang terdistribusi untuk industri pengasinan ikan sebanyak 300.000 ton, konsumsi langsung (650.000 ton), aneka pangan (400.000 ton), kimia (1,1 juta ton), pengeboran minyak (60.000 ton) serta kosmetik dan farmasi (10.000 ton).

    Tony mengatakan kekhawatiran pemerintah akan terjadinya rembesan garam industri aneka pangan menjadi konsumsi tidak perlu terjadi. Pasalnya, kebutuhan garam aneka pangan melebihi dari kuota impor yang diberikan pemerintah.

    Belum lama ini, Kementerian Perdagangan memberikan kuota impor garam untuk tahun ini sebesar 397.000 ton. Akan tetapi, menurutnya, menghadirkan garam impor tidaklah mudah, memerlukan waktu paling cepat satu bulan.

    Selama itu, kami akan menyerap garam lokal. Tahun ini lebih transparan, karena kami meminta industri untuk langusng turun ke petani, katanya.

    Hanya saja, melihat portofolio hasil produksi garam lokal, produk kualitas unggul (K1) hanya sebesar 30 persen dari total produksi, sementara 40 persen untuk K2 , dan sisanya untuk K3. Musim panen raya yang bersamaan dengan diberikannya kuota impor garam industri, dipastikan Aipgi tidak akan mengancam rantai pasokan garam lokal.

    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.