Bisnis Pergudangan Tergerus, Ini Strategi Gapura Angkasa

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO/ Hendra Suhara

    TEMPO/ Hendra Suhara

    TEMPO.CO, Jakarta - PT Gapura Angkasa akan mengambil alih beberapa lini bisnis yang selama ini ditangani pihak ketiga untuk menggantikan peran bisnis pergudangan di areal bandara yang semakin tergerus. Perusahaan itu ingin menjaga pendapatan perusahaan sesuai dengan target yakni rata-rata Rp1 triliun setiap tahunnya.

    Vice President Operation Services PT Gapura Angkasa Padang Baskoro mengatakan beberapa tahun silam, pihaknya melakukan pengelolaan gudang kargo di berbagai bandara yang tersebar di Indonesia, baik milik PT Angkasa Pura (AP) I maupun II.

    “Tapi belakangan ini, AP I mengambil alih pengelolaan gudang di areal bandara yang dikuasainya sehingga bisnis pergudangan kami saat ini hanya ada di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng dan Kualanamu, Medan,” ujarnya, Jumat (24 Juli 2015).

    Dia melanjutkan, dalam waktu dekat hampir dapat dipastikan jumlah gudang yang dikelola oleh Gapura Angkasa bakal semakin menyusut mengingat PT AP II segera mengambil alih pengelolaan gudang di Kualanamu.

    “Jadi seperti itulah situasi bisnis pergudangan Gapura Angkasa,” terangnya.

    Presiden Direktur PT Gapura Angkasa Agus Priyanto membenarkan jumlah gudang yang dikelola oleh perusahaan yang dipimpin olehnya semakin menyusut dari waktu ke waktu. Hal itu, ujarnya, tidak bisa dihindari karena gudang itu merupakan milik pengelola bandara yakni AP I maupun AP II.

    Dia melanjutkan, berdasarkan data 2014, sektor pergudangan menyumbang pendapatan sebesar Rp160 miliar. Karena itu, pihaknya wajib mencari lini bisnis lain yang bisa dimanfaatkan untuk menggantikan sumber pendapatan yang berasal dari pergudangan.

    “Setelah kami pertimbangkan secara matang, ada beberapa unit usaha yang akan kami ambil alih. Sebelumnya dilaksanakan oleh pihak ketiga,” tuturnya.

    Adapun beberapa bisnis yang selama ini dipihakketigakan seperti usaha aircraft cleaning, check in, serta loading-unloading. Bahkan, satu dari tiga jenis bisnis itu menurutnya memiliki potensi pendapatan yang jauh lebih besar dari sektor pergudangan.

    "Potensinya bisa sampai Rp300 miliar. Jumlah itu dua kali lebih besar dibandingkan pendapatan dari sektor pergudangan,” terangnya.

    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Protokol PSBB Masa Transisi di DKI Jakarta, Ada Rem Darurat

    Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberlakukan PSBB Masa Transisi mulai 5 Juni 2020. Sejumlah protokol harus dipatuhi untuk menghindari Rem Darurat.