Musim Kemarau 48 Dusun Bantul Terancam Kekeringan  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kekeringan melanda sejumlah desa di KabupatenTegal, karena hujan sudah tidak mengguyur sejak sekitar dua bulan lalu. Suradadi, Tegal, 30 Juni 2015. TEMPO/Dinda Leo Listy

    Kekeringan melanda sejumlah desa di KabupatenTegal, karena hujan sudah tidak mengguyur sejak sekitar dua bulan lalu. Suradadi, Tegal, 30 Juni 2015. TEMPO/Dinda Leo Listy

    TEMPO.CO, Jakarta - Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, mencatat 48 dusun di wilayah setempat rawan kekeringan atau kesulitan air bersih saat musim kemarau pada tahun ini.

    "Untuk wilayah-wilayah rawan kekeringan di Bantul, saya kira lokasinya masih sama dengan tahun lalu (kemarau 2014), dan yang berpotensi dilanda kekeringan sekitar 48 dusun," kata Kepala BPBD Bantul Dwi Daryanto di Bantul, Kamis (23 Juli 2015).

    Menurut dia, puluhan dusun yang rawan kekeringan saat musim kemarau itu terdapat di beberapa kecamatan wilayah perbukitan, seperti Dlingo, Imogiri, Pajangan, dan sebagian wilayah Kecamatan Piyungan, Pleret, Pandak, dan Kasihan.

    Meski bencana kekeringan melanda tiap tahun di sebagian wilayah Bantul, lembaganya sejak musim kemarau awal Juni sampai saat ini belum menerima laporan ataupun permohonan droping air bersih ke wilayah tersebut.

    "Perlu kami sampaikan bahwa sampai hari ini (Kamis) belum ada masyarakat yang mengajukan droping air. Kemarin, kami sudah siapkan (droping air) karena kebutuhan air selama Lebaran pasti juga naik," katanya.

    Menurut dia, sesuai dengan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta, puncak musim kemarau di wilayah DIY dan sekitarnya terjadi pada bulan Agustus sampai September 2015.

    "Prediksi kami musim kemarau tahun ini cukup panjang sampai November mendatang. Hal ini karena dampak El Nino ringan ke wilayah kita (Indonesia), cuaca kemarau itu menjadikan wilayah kering makin kesulitan air," katanya.

    Oleh sebab itu, pihaknya mengimbau warga, khususnya mereka yang tinggal di perbukitan, agar mewaspadai dampak kemarau tersebut. Setidaknya bisa menghemat penggunaan air agar kesulitan air tidak dirasakan lebih cepat.

    "Kami minta masyarakat bisa hemat dalam penggunaan air sehari-hari agar persediaan air di sumber mata air masih mencukupi kebutuhan. Pasalnya, kaitannya dengan droping air itu hanya sebagai solusi sementara, bukan jangka panjang," katanya.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.