Menteri Gobel: Bulog Harus Ada di Pasar

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Perdagangan Rahmat Gobel  saat melakukan sidak harga kebutuhan pokok di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta, 10 Juli 2015. TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

    Menteri Perdagangan Rahmat Gobel saat melakukan sidak harga kebutuhan pokok di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta, 10 Juli 2015. TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

    TEMPO.CO, Bandung - Menteri Perdagangan Rachmat Gobel mengatakan, pemerintah tengah menyiapkan Bulog agar bisa berfungsi mengendalikan gejolak harga bahan makanan. “Caranya Bulog ada di pasar, Bulog harus ada di pasar,” kata dia di sela kunjungannya ke Pasar Gedebage yang terbakar di Bandung, Selasa, 21 Juli 2015.

    “Bulog akan mensuplai pada para pedagang karena tujuannya untuk memotong supply-chain itu sendiri,” kata dia.

    Menurut Gobel, sementara ini harga bahan makanan pasca Hari Raya Lebaran masih stabil. “Sampai sekarang masih stabil, kami masih mengumpulkan lagi data-data tentang bagaimana perkembangan harga di pasar,” kata dia.

    Gobel mengaku masih menunggu perkembangan harga di pasar. “Kita tunggu saja hasil pantauan semuanya,” kata dia. Kunjungannya ke Pasar Gedebage itu diklaimnya untuk mengetahui kegiatan pasar pasca Lebaran.

    Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan setuju dengan rencana pemerintah memberdayakan Bulog di pasar. “Saya setuju dengan langkah Pak Menteri Perdagangan agar ada Bulog di tiap pasar. Itu  akan mengontrol distribusi. Kalau pihak swasta memacetkan distribusi dengan sengaja demi keuntungan pribadi maka Bulog akan turun,” kata dia di Bandung, Selasa, 21 Juli 2015.

    Aher, sapaan Ahmad Heryawan meminta agar peran Bulog menstabilkan harga ditujukan pada komoditas pertanian.Dia mencontohkan cabe yang harganya sering bergejolak. “Tidak harus ada persediaan cabe, cukup Bulog memahami di mana cabe surplus, kalau di Sukabumi surplus di Bandung kurang, tingal tarik cabe dari Sukabumi ke Bandung. Begitu saja,” kata dia.

    Menurut Aher, cara itu sempat digunakan untuk menekan harga cabe di Pasar Induk Kramatjati yang sempat melonjak saat Ramadan sampai Rp 90 ribu per kilogram. “Waktu itu hampir saja Presiden mau impor, ditarik cabe dari Cianjur dan Sukabumi masuk langsung ke Pasar Induk Kramatjati, langsung turun di angka Rp 50 ribu. Itu operasi pasar sesungguhnya,” kata dia.

    Aher mengatakan, selepas Lebaran kemungkinan harga akan kembali normal. Dia mengakui saat ini harga masih mahal karena masih sedikit pedagang yang sudah berjualan di pasar. “Sekarang bukan karena tidak ada barang, tapi karena pedagang masih liburan. Wajar saja,” kata dia.

    Menurut Aher, saat ini produksi komoditas bahan makanan sedang surplus. Dia mencontohkan, bawang merah, cabe, tomat, serta beras diklaim surplus. “Tidak masalah, sehingga tinggal kita perbaiki jalur distribusi dengan baik, mudah-mudahan penurunan harga tidak hanya urusan puasa dan Idul Fitri tapi juga penstabilan dan penataan distribusi,” kata dia.

    AHMAD FIKRI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Data yang Dikumpulkan Facebook Juga Melalui Instagram dan WhatsApp

    Meskipun sudah menjadi rahasia umum bahwa Facebook mengumpulkan data dari penggunanya, tidak banyak yang menyadari jenis data apa yang dikumpulkan.