BI: Waspadai Uang Palsu Pecahan Kecil

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Anggota bintara pembina desa (Babinsa) dari Kodim 0701 Banyumas memeriksa keaslian uang saat mengikuti sosialisasi di Markas Kodim yang diselenggarakan oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Purwokerto, 24 Juni 2015. Tempo/Aris Andrianto

    Anggota bintara pembina desa (Babinsa) dari Kodim 0701 Banyumas memeriksa keaslian uang saat mengikuti sosialisasi di Markas Kodim yang diselenggarakan oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Purwokerto, 24 Juni 2015. Tempo/Aris Andrianto

    TEMPO.CO, Jakarta - Bank Indonesia mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai peredaran uang palsu saat Lebaran.

    Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumatra Barat Puji Atmoko mengatakan potensi peredaran uang palsu sangat tinggi saat Lebaran, karena kebutuhan uang tunai yang juga tinggi.

    “Masyarakat perlu hati-hati terhadap penyebaran uang palsu. Tidak hanya nominal besar, tetapi pecahan kecil juga perlu diwaspadai,” katanya, Rabu (15 Juli 2015).

    Menurutnya, BI menemukan uang palsu tidak hanya diedarkan dengan pecahan besar Rp100.000 atau Rp50.000, namun juga dipalsukan dalam bentuk pecahan kecil, agar tidak dicurigai masyarakat.

    Puji mengajak masyarakat untuk tetap teliti mengenali uang palsu dengan metode 3D, dilihat, diraba, dan diterawang. Karena metode itu masih cukup ampuh untuk mengenali keaslian uang.

    “Jika selama ini kehati-hatian terhadap pecahan besar, sekarang juga harus memperhatikan uang pecahan kecil,” ujar Puji.

    Data Bank Indonesia mengungkapkan grafif peredaran uang palsu di Sumbar mengalami peningkatan. Dari 135 lembar pada 2010, naik menjadi 388 lembar pada 2011.

    Lalu, tahun lalu angkanya naik menjadi 607 lembar, dan hingga Mei 2015 sudah ditemukan 268 lembar uang palsu.

    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Drone Pemantau Kerumunan dari Udara selama Wabah Covid-19

    Tim mahasiswa Universitas Indonesia merancang wahana nirawak untuk mengawasi dan mencegah kerumunan orang selama pandemi Covid-19.