Pertalite Hadir, Dirut Pertamina: Beri Banyak Pilihan  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Direktur Utama Pertamina, Dwi Sutjipto. TEMPO/Tony Hartawan

    Direktur Utama Pertamina, Dwi Sutjipto. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - PT Pertamina belum berencana menghapus Premium meski setelah Lebaran nanti akan meluncurkan Pertalite atau bahan bakar beroktan 90. Peluncuran Pertalite hanya untuk memberikan banyak pilihan kepada konsumen.

    Direktur Utama PT Pertamina, Dwi Soetjipto, mengatakan Pertalite akan diluncurkan pada 24 Juli mendatang. Hadirnya Pertalite, ujar Dwi, bukan untuk menghapus Premium. "Kita mengharapkan kemudahan yang lebih baik buat konsumen," ujar Dwi di Tanjung Priok, Jakarta Utara, Selasa, 14 Juli 2015.

    Dengan adanya Pertamina, menurut Dwi, konsumen bisa memilih Pertalite atau Pertamax. Rencananya, dia meneruskan, Pertamina juga akan menambah pilihan berupa bahan bakar gas. "Nanti kemudia orang misalnya pindah dari Pertamax ke Pertalite itu pilihan yang mereka lakukan," ujar mantan Dirut Semen Indonesia itu.

    Direktur Jenderal Minyak dan Gas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, I.G.N Wiratmaja Puja, mengatakan hadirnya Pertalite tidak ada kaitannya dengan rencana menaikkan bahan bakar minyak bersubsidi. Saat ini, ujar dia, hanya solar yang disubsidi.

    Karena itu, Wiratmaja memastikan belum ada rencana menaikkan harga BBM dalam waktu dekat ini. Dia menyebutkan, dalam tiga bulan terakhir, harga BBM mengalami kenaikan dan penurunan. "Jadi tetal dievaluasi lagi. Di akhir bulan ditentukan seperti apa," ujarnya.

    Direktur Pemasaran Pertamina Ahmad Bambang sebelumnya mengatakan harga Pertalite di bawah Rp 8.500 per liter. Artinya, harga bahan bakar jenis baru ini sedikit lebih tinggi dari Premium dan lebih murah dibanding Pertamax atau bensin beroktan 92.

    Pada tahap awal, Pertamina menyiapkan 500 kiloliter Pertalite yang akan dipasarkan di 109 stasiun pengisian bahan bakar umum. Rencananya, Pertalite disebarkan di Jakarta, Bandung, dan Surabaya.

    SINGGIH SOARES


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kapal Selam 44 Tahun KRI Nanggala 402 Hilang, Negara Tetangga Ikut Mencari

    Kapal selam buatan 1977, KRI Nanggala 402, hilang kontak pada pertengahan April 2021. Tiga jam setelah Nanggala menyelam, ditemukan tumpahan minyak.