Pinjaman dari Cina, Menteri Rini: Tinggal Finalisasi Bunga  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno, saat mengikuti rapat kerja bersama Komisi VI DPR RI Gedung Nusantara I, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, 30 Juni 2015. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno, saat mengikuti rapat kerja bersama Komisi VI DPR RI Gedung Nusantara I, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, 30 Juni 2015. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Badan Usaha Milik Negara Rini Soemarno mengatakan sudah ada perkembangan ihwal pinjaman dana dari Cina.

    Seusai melepas mudik Lebaran gratis bersama sejumlah BUMN di Senayan, Jakarta, Ahad, 12 Juli 2015, Rini berkata ada tiga bank pelat merah yang mendapatkan dana segar. Ketiga bank itu adalah PT Bank Mandiri Tbk, PT Bank Negara Indonesia Tbk, dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk.

    "Dengan perbankan negosiasinya sebesar US$ 1 miliar untuk tiap bank. Sekarang tinggal finalisasi soal bunga," kata Rini, Ahad, 12 Juli 2015.

    Menurut dia, pinjaman tersebut bersifat fleksibel. Artinya ketiga bank bisa menentukan bantuan dana tersebut.

    Kendati fleksibel, Menteri Rini sudah sejak awal ingin mengoptimalkan bantuan dana dari Cina (refinancing) untuk meningkatkan pembangunan infrastruktur. Hasil kunjungannya ke Eropa pada pekan ini pun dalam upaya menarik investor untuk membantu infrastruktur.

    Rini menjelaskan kedatangannya ke Jerman, Belanda, dan Inggris kemarin bertemu dengan sejumlah pengusaha yang menaruh minat berinvestasi di Indonesia. Beberapa sektor yang menjadi perhatian adalah pembangunan pembangkit listrik, jalan tol, pelabuhan, dan bandara. "Bank ekspor kredit di Inggris berminat membiayai kalau kita ingin kerja sama."

    Namun dari kunjungan itu, Rini menyatakan belum membuat komitmen apa pun kepada para pengusaha di Eropa. Hal terpenting dari kunjungan itu para investor sudah menunjukkan ketertarikannya terlibat dalam pembangunan infrastruktur di Indonesia.

    Sebelumnya, dari hasil kunjungan Presiden Joko Widodo ke Cina pada Februari terjalin kerja sama pembiayaan. Indonesia mendapatkan pinjaman dari lembaga keuangan Cina, yaitu China Development Bank (CBD) dan Industrial and Commercial Bank of China Limited (ICBC) dengan komitmen sekitar US$ 40 miliar.

    Kerja sama ini tertuang dalam nota kesepahaman antara Kementerian BUMN dan National Development Reformation Commission (NDRC) Cina. Dalam kerja sama itu ditekankan bahwa pembiayaan direkomendasikan kepada perusahaan terbaik, sehingga tidak menimbulkan masalah di kemudian hari.

    Direktur Utama Bank Mandiri Budi Sadikin mengatakan masih membicarakan penggunaan dana bantuan tersebut. Menurut dia, pencairan dana akan tergantung kepada proyek yang akan dikerjakan nanti. "Menteri BUMN sudah kasih plafonnya. Kami belum tahu akhir tahun ini akan cair berapa," ucapnya.

    ADITYA BUDIMAN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pedoman WHO Versus Kondisi di Indonesia untuk Syarat New Normal

    Pemerintah Indonesia dianggap belum memenuhi sejumlah persyaratan yang ditetapkan WHO dalam menjalankan new normal.