Sahur di Pasar Induk, Menteri Gobel Dicurhati Pedagang

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Perdagangan, Rahmat Gobel memantau kondisi bawang merah yang terdapat pada Gudang Bulog di Jakarta, 27 Juni 2015. ANTARA/Vitalis Yogi Trisna

    Menteri Perdagangan, Rahmat Gobel memantau kondisi bawang merah yang terdapat pada Gudang Bulog di Jakarta, 27 Juni 2015. ANTARA/Vitalis Yogi Trisna

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Perdagangan Rachmat Gobel meninjau harga sejumlah komoditas di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, pada Jumat subuh, 10 Juli 2015. Datang pada sekitar pukul 03.00, Menteri Gobel sempat makan sahur dan berdialog dengan ratusan pedagang. "Saya ke sini sebetulnya hanya ingin silaturahmi dan makan bareng dengan bapak-bapak dan ibu-ibu," kata dia di depan para pedagang.

    Kedatangan Gobel dimanfaatkan sejumlah pedagang untuk mengadu dan mengeluh terutama terkait tak stabilnya harga beberapa komoditas seperti cabai, bawang merah, dan bawang putih. Anas Sarnil, pedagang bawang putih di Kramat Jati kepada Gobel mengadu soal seretnya produksi bawang putih lokal. Produksi bawang putih dalam negeri, kata dia, tak pernah sampai ke pasar induk karena terserap di daerah asal."Di sini semuanya bawang impor, sama sekali tidak ada produk lokal," ujarnya.

    Menurut Anas, saat ini pasokan sekarang sedangg melimpah, sehingga harga cukup stabil di kisaran Rp 15 ribu sekilo. "Sejak tiga bulan lalu harganya segitu." Dia berharap pemerintah tak membuat kebijakan yang bisa membanjiri pasar dengan bawang putih impor. Jika tidak, "Harga akan anjlok," kata perempuan 52 tahun itu.

    Hal yang sama diungkapkan Hasan Kodri, pedagang bawang merah. Sekitar 3 sampai 5 bulan ke belakang, kata dia, harga bawang merah melonjak hingga sempat Rp 30 ribuan perkilo. Saat ini harga bawang merah turun di kisaran Rp 16-17 ribu. "Turunnya drastis karena ketika pasokan mulai banyak, pemerintah malah bikin operasi pasar," ujar pedagang 61 tahun itu.

    Para pedagang, kata Hasan, merasa serba salah karena saat harga mahal mereka disalahkan pemerintah dan diduga menimbun. "Padahal bawang tak bisa ditimbun." Lalu saat harga turun, giliran petani yang kecewa dan juga menyalahkan pedagang. "Kami ingin pemerintah melindungi kami."

    PRAGA UTAMA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Arti Bilangan R(0) dan R(t) untuk Menerapkan New Normal

    Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Suharso Monoarfa mengatakan bahwa suatu daerah dapat melaksanakan New Normal bila memenuhi indikator R(0).