Limbah Jamu Sido Muncul Diolah Jadi Pupuk Bio Organik  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sido Muncul. sidomuncul.com

    Sido Muncul. sidomuncul.com

    TEMPO.COJakarta - PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk memanfaatkan limbah jamu menjadi pupuk bio organik hingga mencapai puluhan ton per hari. General Manager PT Sido Muncul Pupuk Nusantara (SMPN) Dian Risdianto mengatakan pupuk bio organik yang diproduksi perseroan mampu mengurangi penggunaan pupuk kimia sampai 100 persen dan meningkatkan hasil panen minimal 20 persen.

    “Petani kita masih sulit meninggalkan pupuk kimia. Pada pendampingan awal, petani menggunakan keduanya. Masa tanam pertama 50 : 50, masa tanam kedua 75 : 25, dan masa tanam ketiga separuh dari 25. Jadi penggunaan pupuk kimia tinggal 12,5," kata Dian dalam keterangan resmi, Kamis, 9 Juli 2015.

    Dia berpendapat bahwa manfaat lain dari pupuk bio organik mampu mengembalikan unsur hara tanah yang rusak akibat penggunaan pupuk kimia yang mencapai 90 persen. Lewat riset selama empat tahun dan seleksi ketat, kata dia, pupuk bio organik sudah menembus pasar Amerika. 

    Informasi yang diberikan Dian menarik perhatian Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Apalagi selama ini Ganjar concern dengan pertanian organik. Namun, untuk menggeser pola pertanian anorganik ke pertanian organik, diakui Ganjar bukan hal yang mudah.

    "Saya sudah minta kepada daerah-daerah yang mau bertani organik kita kasih insentif. Tapi ini, kan, mengubah perilaku bertani. Orang yang menggunakan anorganik itu minded banget. Ketika dia harus geser ke organik, itu susahnya minta ampun," tutur Ganjar. 

    Hasil pertanian organik yang ditunjukkan kepadanya ingin ditindaklanjuti dengan uji coba di sejumlah daerah. Apabila hasilnya baik, perilaku bertani anorganik lambat laun akan digeser.

    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menghilangkan Bau Amis Ikan, Simak Beberapa Tipsnya

    Ikan adalah salah satu bahan makanan yang sangat kaya manfaat. Namun terkadang orang malas mengkonsumsinya karena adanya bau amis ikan yang menyengat.