Perkuat Modal, Bank Yudha Belum Akan Naik Kelas

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Papan informasi suku bunga deposito di salah satu bank di Jakarta, Rabu (4/3). Lembaga penjaminan simpanan menurunkan suku bunga yang dijamin 50 basis poin untuk simpanan rupiah menjadi sembilan persen pada bank umum. Tempo/Panca Syurkani

    Papan informasi suku bunga deposito di salah satu bank di Jakarta, Rabu (4/3). Lembaga penjaminan simpanan menurunkan suku bunga yang dijamin 50 basis poin untuk simpanan rupiah menjadi sembilan persen pada bank umum. Tempo/Panca Syurkani

    TEMPO.CO, Jakarta - PT Bank Yudha Bhakti Tbk belum akan naik kelas menjadi bank umum kegiatan usaha (BUKU) II atau bank yang bermodalkan inti Rp1 triliun hingga Rp5 triliun dalam waktu dekat.

    Direktur Kepatuhan PT Bank Yudha Bhakti Tbk Iim Wardiman mengatakan perseroan pada prinsipnya ingin naik kelas menjadi BUKU II dengan tujuan memperkuat permodalan serta memiliki produk yang beragam, seperti internet banking dan bisa menjadi bank devisa.

    Namun, untuk saat ini emiten berkode saham BBYB ini belum melakukan langkah-langkah persiapan menuju BUKU II dalam waktu dekat, sebagaimana tertuang dalam rencana bisnis bank (RBB).

    "Dalam prospektus ketika kami IPO, kami tidak akan rights issue dalam jangka waktu 12 bulan sejak IPO," katanya kepada Bisnis.com.

    Iim menjelaskan, rights issue kemungkinan bisa dilakukan pada awal tahun depan. Saat ini, perseroan belum memutuskan nilai rights issue dan akan melihat perkembangan ke depan terlebih dahulu untuk memutuskan nilainya.

    Adapun saat ini modal inti Bank Yudha Bhakti tercatat senilai Rp271 miliar. Berdasarkan laporan keuangan kuartal I/2015, kredit yang disalurkan Bank Yudha Bhakti mencapai Rp2,061 triliun atau naik tipis dari pencapaian per akhir tahun lalu yang senilai Rp2,006 triliun (year to date).

    Laba bersih yang berhasil diraih perseroan pada tiga bulan pertama senilai Rp8,17 miliar atau meningkat sebesar 231% dibandingkan laba bersih perseroan pada kuartal I/2014 (year on year) yang senilai Rp2,46 miliar.

    Untuk dana pihak ketiga (DPK) perseroan tercatat senilai Rp2,21 triliun yang terdiri dari giro senilai Rp121,63 miliar, tabungan senilai Rp129,04 miliar, dan deposito atau simpanan berjangka senilai Rp1,96 triliun.

    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kemendikbud, yang Diperhatikan Saat Murid Belajar dari Rumah

    Solusi menghambat wabah Covid-19 diantaranya adalah belajar dari rumah dengan cara menghentikan sekolah biasa dan menggantinya dengan sekolah online.