Kebakaran Bandara Soetta, JK Minta Evaluasi  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wapres Jusuf Kalla membuka acara Indonesia Attractiveness Award 2015 di Hotel Mulia, Jakarta, 12 Juni 2015.  Indonesia Attractiveness Award 2015 diselenggarakan oleh Tempo Media Grup merupakan penghargaan bagi penyelenggara daerah terbaik. TEMPO/Subekti

    Wapres Jusuf Kalla membuka acara Indonesia Attractiveness Award 2015 di Hotel Mulia, Jakarta, 12 Juni 2015. Indonesia Attractiveness Award 2015 diselenggarakan oleh Tempo Media Grup merupakan penghargaan bagi penyelenggara daerah terbaik. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan sistem pengelolaan dan prosedur keselamatan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta buruk. Menurut dia, semua manajemen pengelolaan dan keselamatan bandara harus dikaji ulang.

    "Memang ini kan Bandara Soekarno-Hatta tambal sulam dari awalnya, kan? Memang harus di-review semuanya," kata Kalla di kantornya, Selasa, 7 Juli 2015.

    Jusuf Kalla mengatakan dugaan penyebab kebakaran lantaran banyaknya toko dan restoran di sekeliling bandara. Akibatnya, beban listrik semakin banyak. Hal ini juga tidak diimbangi dengan infrastruktur yang kuat.

    "Ini harus diperbaiki dari awal, total," kata Kalla. Padahal, kata dia, konsep awal pembangunan bandara Soekarno-Hatta tidak diperuntukkan bagi banyak tempat, seperti toko dan restoran. "Hanya khusus lalu lalang penumpang. Tapi pada saat itu kita dikritik sama orang Prancis dan sekarang ketika sudah banyak restoran dan toko jadi seperti itu," ujarnya.

    Kebakaran menghanguskan JW Skylounge Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada Ahad, 5 Juli 2015, membuat Terminal 2E dan 2F tidak bisa digunakan. Akibatnya, sekitar 55 penerbangan mengalami penundaan. Untungnya hari ini semua jadwal kembali normal. 

    REZA ADITYA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menghilangkan Bau Amis Ikan, Simak Beberapa Tipsnya

    Ikan adalah salah satu bahan makanan yang sangat kaya manfaat. Namun terkadang orang malas mengkonsumsinya karena adanya bau amis ikan yang menyengat.