Alasan Indonesia Takkan Bernasib Sama dengan Yunani

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo (kanan) menerima Menteri Luar Negeri Republik Sosialis Vietnam, Pham Binh Minh, di Istana Merdeka, Jakarta, 25 Juni 2015. Kunjungan Menlu Vietnam ini untuk membicarakan kerja sama ekonomi investasi kedua negara. TEMPO/ Aditia Noviansyah

    Presiden Joko Widodo (kanan) menerima Menteri Luar Negeri Republik Sosialis Vietnam, Pham Binh Minh, di Istana Merdeka, Jakarta, 25 Juni 2015. Kunjungan Menlu Vietnam ini untuk membicarakan kerja sama ekonomi investasi kedua negara. TEMPO/ Aditia Noviansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Republik Indonesia dinilai tidak akan bernasib sama seperti Yunani yang saat ini mengalami kebangkrutan dan mendapatkan status "default" atau gagal bayar utang dari berbagai lembaga keuangan multilateral seperti IMF.

    "Indonesia tak akan bangkrut seperti Yunani," kata Staf Khusus Kementerian Keuangan Arif Budimanta dalam diskusi yang digelar Humas MPR sebagaimana terdapat dalam rilis MPR RI yang diterima di Jakarta, Sabtu, 4 Juli 2015.

    Arif yang merupakan mantan Anggota MPR/DPR dari Fraksi PDIP itu membandingkan utang Yunani yang sudah mencapai 200 persen lebih, sedang utang Indonesia masih 25 persen. 

    Selain itu, ujar dia, defisit fiskal Yunani mencapai 60 persen, sedang Indonesia kurang dari 1,9 persen. "Dari sisi pertumbuhan ekonomi kita positif sedang Yunani negatif," ujarnya. Untuk itu, ia mengajak berbagai pihak untuk optimistis dan tidak perlu ada ketakutan apalagi kebijakan pemerintah selama ini diakui pro-rakyat.

    Arif mengemukakan, hal tersebut dapat dilihat antara lain dari politik anggaran yang berpihak pada pembangunan desa, di mana anggaran desa naik dari Rp9,7 triliun tahun sebelumnya menjadi Rp21 triliun pada tahun ini.

    Sebelumnya, Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik Universitas Gadjah Mada (UGM) Tony Prasetiantono menuturkan Indonesia kini masih jauh dari krisis ekonomi seperti yang pernah terjadi pada 1998 akibat melemahnya mata uang rupiah.

    "Kalau dilihat angka sepertinya sudah dekat, dulu Rp15.000 sekarang kita sudah Rp13.400. Meskipun angkanya mirip, tetapi situasinya sangat berbeda," ujar dia di Jakarta, Kamis, 2 Juli 2015

    Pada 1998, kata dia, inflasi mencapai 78 persen karena rupiah melemah sehingga orang-orang berlomba menarik dana dari perbankan dalam bentuk tunai dan BI mencetak uang dalam jumlah besar.

    Sedangkan sekarang, Tony mengatakan inflasi "year on year" sebesar 7,15 persen, jauh dibanding pada 1998. Selanjutnya, suku bunga deposito pada 1998, tutur dia, mencapai 60 hingga 70 persen sehingga bunga deposito lebih tinggi dari bunga kredit yang hanya 24 persen.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Data yang Dikumpulkan Facebook Juga Melalui Instagram dan WhatsApp

    Meskipun sudah menjadi rahasia umum bahwa Facebook mengumpulkan data dari penggunanya, tidak banyak yang menyadari jenis data apa yang dikumpulkan.