Krisis Yunani, Ini Kata Menteri Bambang

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang manager bank membuka pintu masuk untuk para pensiunan mengambil uang pensiunannya di Athena, Yunani, 1 Juli 2015. AP/Thanassis Stavrakis

    Seorang manager bank membuka pintu masuk untuk para pensiunan mengambil uang pensiunannya di Athena, Yunani, 1 Juli 2015. AP/Thanassis Stavrakis

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro menyatakan ada pelajaran sederhana yang dapat diambil Indonesia dari krisis ekonomi Yunani. "Namanya fiscal sustainbility," kata Bambang di Direktorat Jenderal Pajak, Jakarta, Kamis, 2 Juli 2015.

    Menurut Bambang, Yunani begitu mudahnya membuat defisit anggaran 8 persen. Dengan begitu, Yunani harus menutupi defisit tersebut melalui utang. Akibatnya, debt to GDP ratio 60-70 persen. Kalau Indonesia sekitar 25 persen.

    Negara-negara di Eropa, termasuk Yunani, Bambang menjelaskan, terlalu mudah melakukan pembiayaan dari utang. Kondisi itu membuat pengumpulan dari pajak lemah. "Tidak ada penerimaan dan surat utang negara jatuh. Itu yang terjadi pada kasus Yunani," ujar Bambang.

    Kondisi Yunani, menurut Bambang, serupa dengan krisis yang menimpa Indonesia pada 1998 silam. Dari 1990 sampai 1997, Bambang menjelaskan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 7 persen. "Itu yang terbaik dalam sejarah kita," ujar Bambang.

    Namun pada 1998, pertumbuhan Indonesia minus 14 persen. Bambang mengatakan krisis terjadi karena Indonesia tidak menjaga stabilitas fiskal. "Jadi fiscal sustainbility yang paling tepat menjaga stabilitas ekonomi," ujarnya

    Yunani terancam gagal membayar utang sebesar 1,5 miliar euro kepada Lembaga Moneter Internasional (IMF). Dengan kondisi tersebut, pemerintah Yunani memutuskan menutup bank sentral pada pekan lalu. Yunani pun terancam keluar dari Uni Eropa.

    SINGGIH SOARES


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Satu Tahun Bersama Covid-19, Wabah yang Bermula dari Lantai Dansa

    Genap satu tahun Indonesia menghadapi pandemi Covid-19. Kasus pertama akibat virus corona, pertama kali diumumkan pada 2 Maret 2020.