Ekonomi Melambat, Penerimaan Pajak DKI Tidak Maksimal

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO/Aditia Noviansyah

    TEMPO/Aditia Noviansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Eksekutif Center For Indonesia Taxation Analysis Yustinus Prastowo mengatakan perlambatan ekonomi di Indonesia mendorong belum maksimalnya penerimaan pajak DKI.

    "Jenis pajak daerah itu digerakkan oleh konsumsi, misalnya kendaraan bermotor, hotel, restoran, dan hiburan. Jika ekonomi melambat maka penerimaan pajaknya juga otomatis berkurang," katanya kepada Bisnis, Selasa (30 Juni 2015). 

    Dia menuturkan faktor-faktor lain yang membuat masih minimnya serapan pajak dari masyarakat ke Pemprov DKI adalah masih lemahnya pengawasan dan penegakan hukum (law enforcement) dari pemerintah.

    Menurutnya, pemerintah tak bisa duduk santai untuk mendapat pajak dari masyarakat. Apalagi, lanjutnya, Pemprov DKI harus berkejaran dengan waktu yang tinggal 6 bulan lagi untuk mencapai target.

    "Realisasi pajak DKI di bawah 50% padahal sudah mau masuk semester II/2015. Pemerintah harus mewaspadai hal ini. Kalau tak gerak cepat bisa-bisa targetnya tidak tercapai," imbuhnya.

    Sebelumnya, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yakin bisa merealisasikan target penerimaan pajak daerah pada tahun ini sebesar Rp36 triliun meski penerimaan pajak saat ini baru menembus Rp9,5 triliun per 11 Juni 2015.

    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.