BPS: Ekonomi Lesu Daya Beli Masyarakat Merosot

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petani menunjukkan sejumlah bawang merah yang telah di panen di perkebunan Bantaeng, Sulsel, beberapa waktu lalu.  Perekonomian Sulawesi Selatan (Sulsel) pada Mei mengalami inflasi sebesar 0,31%, yang dipicu tiga komoditas utama masyarakat, yakni bawang merah, daging ayam ras serta telur ayam ras.TEMPO/Iqbal Lubis

    Petani menunjukkan sejumlah bawang merah yang telah di panen di perkebunan Bantaeng, Sulsel, beberapa waktu lalu. Perekonomian Sulawesi Selatan (Sulsel) pada Mei mengalami inflasi sebesar 0,31%, yang dipicu tiga komoditas utama masyarakat, yakni bawang merah, daging ayam ras serta telur ayam ras.TEMPO/Iqbal Lubis

    TEMPO.CO, Bandung - Kepala Bidang Statistik Distribusi, Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat, Dody Gunawan Yusuf mengungkapkan, sepanjang Juni 2015 hanya harga 85 komoditas harga yang bergerak. "Kami pantau lebih dari 400 komoditas, untuk bulan Juni ini yang mengalami inflasi 50 komoditas, dan mengalami deflasi 35 komoditas, jadi hanya 85 komoditas bergerak," kata dia di Bandung, Rabu, 1 Juli 2015.

    Dody mengatakan, perekonomian saat ini ditopang oleh konsumsi pemerintah dan mayarakat. Konsumsi masyarakat terlihat dari volume penjualan barang dan pergerakan harga. “Selebihnya yang stabil itu bisa diartikan permintaan masyarakat stagnan, permintaan terhadap barang stabil, atau daya beli memang tergerus,” kata dia.

    Menurut Doddy, kemungkinan saat ini masyarakat cenderung menahan pembelian barang, dan cenderung memilih berdasarkan skala prioritasnya. Penyebabnya, momen Lebaran tahun ini berbarengan dengan penerimaan siswa baru sekolah. “Kalau Ramadhan di bulan Mei atau di akhir Juli pasti cukup berat inflasinya, karena berantai efek Ramadhan dan biaya pendidikan, kalau di waktu yang sama orang pasti memilih skala prioritas,” kata dia.

    Dody mengatakan, dalam kondisi normal terdapat lebih dari 200 komoditas yang harganya bergerak, baik naik atau turun. “Kondisi saat ini banyak komoditas yang harganya tetap, artinya bisa macam-macam. Dinaikin orang gak mau beli, diturunin rugi. Kami lihat juga volume penjualan beberapa barang anjlok,” kata dia.

    Menurut Doddy, dalam penghitungan inflasi sejumlah barang kendati perubahan harganya sedikit tapi karena nilai konsumsinya bisa mempengaruhi nilai inflasi. Dia mencontohkan, daging ayam ras kendati kenaikan harganya hanya 5,9 persen tapi dengan nilai konsumsinya yang tinggi memuncaki komoditas yang paling berpengaruh pada inflasi bulan Juni.

    BPS mencatat inflasi di Jawa Barat sepanjang Juni 2015 tercatat 0,51 persen. Inflasi tahun kalender (Januari-Juni 2015) tercatat 0,73 persen dan laju inflasi tahunan atau year on year sebesar 6,51 persen. “Kalau tidak ada langkah-langkah pengendalian, inflasi bisa di atas 1 persen,” kata Dody.

    Infalasi tercatat terjadi di tujuh kota yang menjadi pantauan BPS.Tertinggi terjadi di Kota Bandung yakni dan Kota Tasik yakni 0,72 persen, sementara selebhnya di bawah itu. Daging dan produknya serta bumbu-bumbuan menjadi penyumbang inflasi terbesar, yakni daging ayam ras, telur, cabe merah, serta bawang merah.

    Dody menyarankan agar pemerintah tidak menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dan gas bersubsidi. ”Penyesuaian harga kalau ada, jangan ditumpuk semuanya,” kata dia. “Paling tidak ada jeda waktu jangan sebulan atau dua bulan, tapi menunggu sampai satu triwulan. “

    Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Barat Ferry Sofwan Arief berharap, inflasi sepanjang Juli 2015 ini tidak lebih besar dibandingkan nilai inflasi bulan ini. “Mudah-mudahan tidak lebih dari inflasi Juni, karena meskipun ada THR dan gaji ketigabelas bagi PNS tapi dengan kondisi ekonomi stagnan, kemudian Lebaran bersamaan dengan kenaikan sekolah, sehingga belanjanya jadi gak jor-joran,” kata dia di Bandung, Rabu, 1 Juli 2015.

    AHMAD FIKRI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Satu Tahun Bersama Covid-19, Wabah yang Bermula dari Lantai Dansa

    Genap satu tahun Indonesia menghadapi pandemi Covid-19. Kasus pertama akibat virus corona, pertama kali diumumkan pada 2 Maret 2020.