Lahan Sempit Jadi Kendala Klaster Hortikultura

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petani memanen jeruk Lembang di Kampung Bukanagara, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Jumat (8/6). Jeruk silangan antara jeruk Garut dan frimont ini berbuah sepanjang tahun dengan harga Rp 12.000 di kebun. Jenis jeruk karya petani lokal ini mampu beradaptasi dengan baik di berbagai iklim tropis. TEMPO/Prima Mulia

    Petani memanen jeruk Lembang di Kampung Bukanagara, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Jumat (8/6). Jeruk silangan antara jeruk Garut dan frimont ini berbuah sepanjang tahun dengan harga Rp 12.000 di kebun. Jenis jeruk karya petani lokal ini mampu beradaptasi dengan baik di berbagai iklim tropis. TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.CO, Jakarta - Pengembangan klaster hortikultura di Jawa Barat masih terkendala lahan sempit yang dimiliki masyarakat.

    Kepala Bidang Produksi Hortikultura Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan (Diperta) Jabar, Obas Firmansyah mengatakan kepemilikan lahan yang sempit membuat kawasan yang akan dijadikan klaster atau sentra sulit diwujudkan.

    Menurutnya akibat faktor tersebut, produksi hortikultura meliputi buah-buahan, sayuran, dan tanaman obat masih terpencar-pencar di berbagai daerah serta belum terpusat di satu tempat atau kawasan.

    “Klasterisasi kawasan hortikultura di Jabar merupakan satu kesatuan wilayah komoditas dengan kesesuaian agroklimat ,” ujarnya kepada Bisnis.com, Selasa (30 Juni 2015).

    Dia mengemukakan dengan mekanisme klasterisasi para petani komoditas pertanian dapat saling bekerjasama dan dapat diberi pembinaan yang lebih efisien, sehingga sektor hortikultura dapat lebih produktif.

    “Jika petani bergerak sendirian, maka ketika gagal panen mereka akan cepat menyerah. Sementara dalam klasterisasi, para petani bisa bersinergi dan saling menyemangati,” katanya.

    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Perpres Investasi Miras

    Pemerintah terbitkan perpres investasi miras, singkat dan minuman keras. Beleid itu membuka investasi industri minuman beralkohol di sejumlah daerah.