Dorong Kemajuan Industri, Galangan Kapal Butuh Pembiayaan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerja memperbaiki kapal nelayan di galangan kapal di Muara Baru, Jakarta, Selasa (6/3). TEMPO/Subekti

    Pekerja memperbaiki kapal nelayan di galangan kapal di Muara Baru, Jakarta, Selasa (6/3). TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Umum Ikatan Perusahaan Industri Kapal dan Sarana Lepas Pantai Indonesia (Iperindo) Eddy Kurniawan Logam mengatakan, industri galangan kapal dalam negeri membutuhkan paket kebijakan yang mampu mendorong kemajuan industri ini, salah satunya berupa dukungan pembiayaan.

    "Kami mengharapkan ada dukungan pembiayaan. Untuk perbankan normal kan bunganya 13 persen, sedangkan di Korea, Cina, dan Jepang bunganya rendah sekali. Di Cina misalnya 5-6 persen saja," kata Eddy Logam di Jakarta, Senin, 29 Juni 2015.

    Menurutnya, jika pemerintah melihat industri galangan kapal sebagai industri strategis, maka akan ada kebijakan khusus, tidak hanya dari segi dukungan fiskal, tapi juga dari sisi perbankan.

    Dengan pembiayaan yang lebih murah, lanjut Eddy, importasi kapal untuk kebutuhan dalam negeri akan berkurang, sehingga devisa negara yang lari ke luar juga akan ditekan.

    Sementara itu, Menteri Perindustrian Saleh Husin mengatakan, permintaan dukungan pembiayaan tersebut menjadi salah satu hal yang dibicarakan dalam rapat terbatas yang membahas industri galangan kapal bersama presiden siang ini.

    "Kalau industri galangan di Batam, mereka bisa pinjam ke Singapura dengan bunga kira-kira 3-5 persen. Sementara di luar Batam, kalo pakai pinjaman dalam negeri itu 13 persen. Inilah salah satu yang kami perjuangkan," kata Menperin.

    Menurutnya, pemerintah sedang mencari formulasi pembiayaan yang dapat mendukung industri galangan kapal di dalam negeri.

    "Terkait bunga bank ini nanti dicari formulanya," ujar Menperin.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kapal Selam 44 Tahun KRI Nanggala 402 Hilang, Negara Tetangga Ikut Mencari

    Kapal selam buatan 1977, KRI Nanggala 402, hilang kontak pada pertengahan April 2021. Tiga jam setelah Nanggala menyelam, ditemukan tumpahan minyak.