Pendapatan Anjlok, Pedagang Kaki Lima di Monas Menjerit  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pedagang mulai menempati lokasi relokasi pedagang kaki lima monas di Food & Culture Park Lenggang Jakarta, lapangan parkir IRTI Monas, Jakarta, 6 Mei 2015. Sebanyak 339 pedagang akan direlokasi di tempat ini. TEMPO/Subekti.

    Pedagang mulai menempati lokasi relokasi pedagang kaki lima monas di Food & Culture Park Lenggang Jakarta, lapangan parkir IRTI Monas, Jakarta, 6 Mei 2015. Sebanyak 339 pedagang akan direlokasi di tempat ini. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Jakarta - Pria berjaket hijau itu tampak tergesa-gesa menarik lorinya. Peluhnya bercucuran membasahi dahi dan pipi di siang puasa, Minggu (28 Juni 2015). Sesekali tangan pria asal Pamekasan, Madura, ini menyekanya.

    "Capek kalau terus diuber-uber anggota Polisi Pamong Praja begini,” kata Alwi, pria itu, di tengah napas terengah.

    Siang itu, Alwi dan puluhan pedagang kaki lima (PKL)  yang berjualan di IRTI Monumen Nasional lari tunggang-langgang karena serombongan polisi berpatroli ke sana. Sejak pertengahan bulan, pemerintah melarang pedagang berjualan di Monas karena sudah ada kios Lenggang Jakarta.

    Bukannya lari keluar dari kawasan IRTI, para pedagang tersebut justru lari menuju tempat kuliner Lenggang Jakarta. Untuk menghindari kejaran petugas, mereka menitipkan dagangannya kepada rekan-rekannya yang memiliki kios di sana.

    Bahkan beberapa penjual minuman, seperti Alwi, langsung memasukkan beberapa botol minuman ringannya ke dalam karung yang sudah tersedia di sana.

    Alwi menjelaskan, sejak Lenggang Jakarta diresmikan, polisi praja kerap merazia pedagang yang dianggap ilegal. Alhasil, pendapatan mereka terjun bebas.

    "Paling hanya Rp 30 ribu sehari," tutur laki-laki 32 tahun ini.Sebetulnya berdagang seperti Alwi tak rugi, karena dia membayar ke penyuplai setelah barang yang diambilnya terjual.

    Saat sedang berbincang itu, telepon Alwi berdering. Istrinya mengabarkan bahwa Monas sudah aman karena polisi sudah berlalu.

    “Kami sesama pedagang harus terus berkoordinasi," ujarnya sambil menarik lorinya masuk kembali ke kawasan IRTI Monas. Kepala Kepolisian Jakarta Pusat Yadi Rusmayadi mengatakan anggotanya harus kucing-kucingan saat merazia pedagang.

    “Untuk akhir pekan, kami mengerahkan 400 personel," tuturnya.

    Koordinator Keamanan Lenggang Jakarta, Nur Miyanti, menyesalkan razia tak berkoordinasi dengannya.

    “Kalau tahu, saya bisa kerahkan anak buah berjaga di pintu masuk Lenggang Jakarta,” kata dia.

    Petugas akan melarang pedagang menitipkan barangnya ke pedagang Lenggang. Untuk menjaga keamanan Lenggang Jakarta, terdapat 26 petugas keamanan yang dibagi dalam dua shift.

    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.