Pasar Tembakau Terbatas, Cerutu Taru Martani Merugi  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tumpukan cerutu panjang  di pabrik pembuatan cerutu Bobbin Kebon Kertosari, PT Perkebunan Nusantara (PTPN) X, Jember, 16 Agustus 2014. TEMPO/Fully Syafi

    Tumpukan cerutu panjang di pabrik pembuatan cerutu Bobbin Kebon Kertosari, PT Perkebunan Nusantara (PTPN) X, Jember, 16 Agustus 2014. TEMPO/Fully Syafi

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Pendapatan perusahaan milik Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta, Taru Martani, merosot tajam. Dari sebesar Rp 682,9 juta pada tahun 2013, pabrik cerutu itu hanya mampu menyumbangkan Rp 40,4 juta pada pendapatan daerah di tahun 2014.

    Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sultan Hamengku Buwono X mengatakan pendapatan dari Taru Martani pada 2014 itu bahkan lebih rendah dibandingkan angka yang ditargetkan sebesar Rp 88,4 juta. Penurunan yang tajam itu dinilai karena kondisi pasar cerutu dunia. “Disebabkan adanya kebijakan pembatasan masuknya cerutu di negara-negara ekspor,” katanya dalam sidang paripurna di DPRD DIY, Senin, 29 Juni 2015.

    Untuk mempertahankan perusahaan itu, menurut Sultan, core business Taru Martani perlu ditingkatkan agar tak terbatas pada produk tembakau saja.

    Laman resmi Dinas Pendapatan Pengelolaan dan Aset Daerah Istimewa Yogyakarta mencatat, Taru Martani merupakan perusahaan berdiri sejak 1918. Pabrik cerutu ini telah menghasilkan setidaknya 14 jenis cerutu yang telah dikenal dunia. Dari Cigarillos/Treasure, Extra Cigarillos, Senoritas, Panatella, Slim Panatella, Corona, Perfecto, hingga Rothsschild. Taru Martani juga memproduksi tiga formulasi campuran cerutu. Natural Cigar, Flavour Cigar, dan Mild Cigar.

    Bahan baku cerutu Taru Martani didatangkan dari tembakau di Besuki, Jawa Timur. Tembakau ini dikenal memiliki cita rasa tembakau yang menonjol dengan warna cokelat kehitaman.

    Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera DPRD DIY Arief Budiono mengatakan produk berbahan tembakau terus tersudut di pasaran. Kebijakan pengurangan konsumsi produk tembakau kini berlaku di banyak negara. “Tak hanya di Indonesia tapi seluruh dunia,” katanya.

    Menurut dia, pemerintah harus mengevaluasi kembali perusahaan daerah ini. Jika perusahaan ini tetap dipertahankan dengan produk lama, cerutu, besar kemungkinan akan sulit berkembang. Padahal, sambung dia, modal yang ditanamkan pemerintah di perusahaan itu pada tahun lalu mencapai Rp 15 miliar.

    Arief mengusulkan, pemerintah harus mulai mencari alternatif jenis produk lain di Taru Martani. Sayangnya, hingga kini alternatif produk non-tembakau itu belum terpastikan hingga kini. Yang jelas, “Tidak semata-mata produk berbahan tembakau saja,” katanya.

    ANANG ZAKARIA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Satu Tahun Bersama Covid-19, Wabah yang Bermula dari Lantai Dansa

    Genap satu tahun Indonesia menghadapi pandemi Covid-19. Kasus pertama akibat virus corona, pertama kali diumumkan pada 2 Maret 2020.