Pengamat: Ini 3 Strategi Penting Efektifkan Dwelling Time

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bongkar muat peti kemas. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    Bongkar muat peti kemas. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    TEMPO.CO, Jakarta - Pengamat strategi ekonomi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI) Sari Wahyuni meminta pemerintah untuk segera menerapkan tiga strategi penting dalam mengefektifkan dwelling time atau waktu tunggu pelayanan kapal dan barang di pelabuhan Indonesia.

    Menurut dia di Jakarta, Minggu (28 Juni 2015), ketiga strategi itu jika dilaksanakan secara konsisten dan terpadu, membutuhkan waktu sekitar 1--2 tahun agar semuanya berjalan sesuai dengan harapan.

    "Tentu saja makin cepat, makin baik karena kita harus bersaing dengan Singapura yang hanya 1 hari dan Malaysia 2 hari," ujarnya dalam keterangan tertulis.

    Menurut dia, jika pemerintah Indonesia bisa mempercepat "dwelling time" di pelabuhan, langkah-langkah konkretnya harus segera diwujudkan.

    Jika pemerintah konsisten menerapkan tiga strategi tersebut, "dwelling time" akan mencapai paling tidak 3 hari. Namun, akan lebih baik jika bisa lebih cepat lagi sehingga daya saing Indonesia menjadi makin cepat dan meningkat.

    Sari yang juga Pengelola S3 Stratejik FEUI mengungkapkan bahwa ketiga strategi untuk mengefektifkan "dwelling time" bagi perekonomian nasional, yakni pertama, ketika barang masuk ke pelabuhan Indonesia, sudah harus dilakukan koordinasi sejak awal, mulai dari "clearing" dokumen hingga kuantitas barang dan waktu tiba barang.

    Lalu "loading" barang yang jelas dari satu kapal ke pelabuhan, dan sebaliknya.

    Dalam hal ini, IT sistem harus mendukung integrasi pelabuhan, dan semua dokumen sudah harus dipersiapkan sejak awal.

    "Pada bagian ini, kita sudah harus menyediakan insentif bagi setiap aktifitas dan administrasi barang," katanya.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Kantor dan Tempat Kerja

    BPOM melansir panduan penerapan new normal alias tatanan baru. Ada sembilan rekomendasi agar pandemi tak merebak di kantor dan tempat kerja.