Jumlah Wisatawan Religi Madura Menurun

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ribuan peziarah memadati Masjid Raya Sultan Riau di Pulau Penyengat di Tanjungpinang, Kepri, Jumat (2/9). Setiap hari besar Islam ribuan peziarah tersebut memadati Pulau Penyengat melakukan wisata religi untuk berziarah ke makam-makam Raja Kerajaan Riau-Lingga serta Masjid Sultan Riau peninggalan abad ke-17. ANTARA/Henky Mohari

    Ribuan peziarah memadati Masjid Raya Sultan Riau di Pulau Penyengat di Tanjungpinang, Kepri, Jumat (2/9). Setiap hari besar Islam ribuan peziarah tersebut memadati Pulau Penyengat melakukan wisata religi untuk berziarah ke makam-makam Raja Kerajaan Riau-Lingga serta Masjid Sultan Riau peninggalan abad ke-17. ANTARA/Henky Mohari

    TEMPO.CO, Jakarta - Pengunjung tempat wisata religi di Bangkalan, Pulau Madura, Jawa Timur, pada awal bulan suci Ramadhan 1436 Hijriah ini menurun dibanding hari-hari biasa sebelumnya.

    Salah satunya seperti wisata religi di makam tokoh ulama Bangkalan Syaichona Moh Kholil di Desa Martajasa, Kecamatan Kota, Bangkalan.

    Menurut petugas jaga di makam itu, Rawidi, Sabtu (27 Juni 2015), pada hari-hari biasa, tidak kurang dari 1.000 orang dari berbagai daerah di Indonesia datang ke makam itu. Hanya saja, pada awal Ramadhan kali ini, warga atau peziarah yang datang menurun.

    Namun penurunan hanya terjadi pada penziarah luarkota. Sedangkan peziarah lokal Bangkalan, tetap.

    "Mulai awal puasa pengunjung hanya berkisar antara 600 dan paling banyak 1000 orang per hari. Biasanya selalu lebih dari seribu orang," kata Rawidi.

    Makam Kiai Kholil banyak didatangi peziarah, karena diyakini sebagai makam kramat. Konon, warga yang memiliki keinginan (hajat) bisa terkabul, apabila memohon kepada Allah SWT dengan berdoa dan mengaji, apalagi menghatamkan Alquran di dekat makam ulama kharismatik ini.

    Meski demikian, makam KH Moh Kholil yang dikeramatkan ini sangat sederhana. Hanya ada dua buah batu nisan yang dibungkus oleh puluhan kain putih, hingga nampak besar.

    Menurut Rawidi, kain putih yang banyak di dua batu nisan Kiai Kholil ini sengaja dipasang oleh para peziarah yang merasa hajatnya telah dikabulkan.

    Disebelah makam Kiai Kholil, terdapat makam putranya KH Moh Imron Kholil, lalu makan menantunya, KH Muntaha.

    Menurut petugas jaga di makam itu, Rawidi, sudah menjadi kebiasaan setiap awal Ramadhan, peziarah yang datang ke makam itu menurun.

    "Nanti pada pertengahan bulan Ramadhan, biasanya sejak malam tanggal 17 Ramadhan, atau malam Nuzunul Quran pengunjung akan meningkat lagi, hingga mendekati Lebaran, karena mereka sambil berharap berkah di malam lailatur qodar," katanya.

    Biasanya, sambung dia, mulai malam Nuzulul Quran hingga mendekati Idulfitri itu, peziarah, baik luar daerah maupun dari lokal Madura ini, hingga mencapai puluhan ribu orang.

    Sebab dalam satu hari ada terkadang lebih dari 100 bus pariwisata di tambah kendaraaan pribadi, dan warga lokal. "Apalagi, malam JUmat legi," tuturnya.

    Selain penziarah, lanjut Rawidi, di Makam Shaichona Moh Kholil itu juga ada banyak musyafir yang sengaja menginap hingga 1 bulan bahkan lebih, dengan tujuan untuk mencari berkah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

    "Jumlah mukimin, baik yang laki-laki dan perempuan saat ini sebanyak 100 orang, dan yang paling jauh berasal dari Lampung. Ada juga yang berasal dari Jawa Barat," pungkasnya.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.