Biaya Distribusi Indonesia Mahal di ASEAN, Ini Penyebabnya  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO/Tri Handiyatno

    TEMPO/Tri Handiyatno

    TEMPO.CO, Jakarta - Harga pangan yang tinggi merupakan masalah akut nasional. Salah satu penyebabnya adalah tingginya biaya distribusi nasional. "Biaya distribusi kita dua kali lipat dibanding negara ASEAN lainnya," kata Ketua Komisi Pertanian Komisi IV Edhy Prabowo di Pasar Induk Kramat Jati, Kamis, 25 Juni 2015.

    Dari harga jual konsumen, menurut Edhy, 12 persennya merupakan biaya distribusi. Padahal, biaya ini di negara tetangga hanya 6 persen saja. Selain itu, antrean yang kerap panjang juga membuat distribusi barang dari sentra produksi ke konsumen tak merata dan lama. Harga juga kerap melonjak karena permintaan dan pasokan tak berimbang.

    Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengatakan sudah berkoordinasi dengan Menteri Perhubungan Ignasius Jonan untuk mengurangi antrean kapal pengangkut bahan makanan pokok di pelabuhan. Tujuannya adalah untuk memperlancar arus distribusi komoditas pangan strategis dari sentra produksi ke wilayah konsumsi.

    Menurut Amran, tersendatnya arus distribusi kerap menjadi salah satu penyebab melonjaknya harga di pasaran. "Sekarang bahan makanan ini bisa ada karena Pak Menhub sudah mendahulukan truk-truk yang bawa bahan pangan di antrean," kata Amran sambil menunjuk 22 truk yang siap membawa bahan pangan ke 20 titik-titik Operasi Pasar Murah.

    Setiap truk bermuatan 3-4 ton itu membawa beras, bawang merah, gula pasir, minyak goreng, cabai, dan daging sapi. Pasar ini bertujuan untuk memastikan setiap daerah memperoleh pasokan yang merata.

    Amran berencana untuk membuat pasar murah ini menjadi suatu kegiatan permanen, tak hanya menjelang hari raya saja. "Insya Allah tahun depan," kata dia. Titiknya pun akan diperbanyak tak hanya di Jabodetabek, tapi meluas hingga Surabaya, Bandung, dan daerah lainnya.

    Edhy memuji aksi Menteri Amran ini. Saat ini harga bahan pokok di pasar sudah merata. Harga bawang merah yang sempat menyentuh Rp 30 ribu kini sudah stabil angka Rp 14-18 ribu. Harga cabai yang sempat mencapai Rp 80 ribu kini berkisar sekitar Rp 14 ribu. "Koordinasi harus ditingkatkan. Semangatnya harus menyebar ke menteri lain," kata dia.

    Manajer Unit Pasar Besar Pasar Induk Kramat Jati M. Salam mengatakan operasi pasar ini sangat membantu para pedagang. Selain memastikan pasokan terpenuhi, harga juga menjadi stabil dan konsumen tak enggan berbelanja. "Tak ada pihak yang dirugikan. Kami apresiasi langkah ini," katanya.

    URSULA FLORENE SONIA



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Peranan Penting Orang Tua dalam Kegiatan Belajar dari Rumah

    Orang tua mempunyai peranan yang besar saat dilaksanakannya kegiatan belajar dari rumah.