Ekonomi Melambat, Pengusaha Harus Survive

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Para pengusaha Taksi dan Organda Kota Bandung mendatangi Mapolrestabes, Bandung, 23 Juni 2015. Para pengusaha angkutan Taksi dan Organda memprotes beroperasinya Taksi Uber di Bandung. TEMPO/Aditya Herlambang Putra

    Para pengusaha Taksi dan Organda Kota Bandung mendatangi Mapolrestabes, Bandung, 23 Juni 2015. Para pengusaha angkutan Taksi dan Organda memprotes beroperasinya Taksi Uber di Bandung. TEMPO/Aditya Herlambang Putra

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Umum Jaringan Pengusaha Nasional (Japnas), Bayu Priawan berharap pengusaha tidak menyerah terhadap melambatnya ekonomi sehingga berpengaruh terhadap turunnya daya beli konsumen.

    "Saya berharap pengusaha nasional jangan patah semangat untuk itu dibutuhkan inovasi untuk menciptakan produk berdaya saing tinggi," kata Bayu saat dihubungi, Rabu, 24 Juni 2015.

    Menurut dia, pola industri Indonesia sekarang ini sedang dalam tahap peralihan. Bila sebelumnya, pengusaha Indonesia hanya mengekspor barang mentah, kini pemerintah menerapkan aturan ekspor barang setengah jadi.

    Peralihan tersebut, tidak dipungkiri memberi pengaruh terhadap industri. Diantaranya industri pertambangan dan kayu. Namun, pola industri mandiri yang diterapkan pemerintah saat ini akan memiliki multiplier effect, kata Bayu.

    "Kalau memang tujuan kita adalah berdikari di bidang ekonomi, added value barang produksi sangat perlu dipertimbangkan. Ini yang akan membuat daya saing produk kita lebih tinggi di kemudian hari," ujar Bayu.

    Pengusaha kelahiran Jakarta, 24 Mei 1977 ini menambahkan, perubahan pola dalam industri tidak bisa dilakukan secara instan, butuh kesabaran guna memetik hasil dari kemandirian industri nasional.

    "Ibarat pepatah, berakit-rakit ke hulu, berenang ke tepian. Sekarang memang pengusaha harus bersusah payah, tapi kemudian hari nilai investasi yang datang akan lebih besar," ujar dia.

    Bayu yang memimpin perusahaan yang bergerak dibidang industri transportasi terkemuka ini menyarankan pengusaha Indonesia tidak kehilangan inovasi dalam menciptakan produk berdaya saing tinggi.

    "Ciptakan inovasi dari sisi fungsi dan peningkatan kualitas, serta membidik pasar yang lebih luas," ujarnya menegaskan.

    ANTARA

     

     

     

     



     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.