Pembangunan Bandara Internasional Kertajati, 4 Bank Dijajaki

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pesawat tenaga surya, Solar Impulse 2 bersiap lepas landas dari Bandara Lukou, Nanjing, Cina, 31 Mei 2015.  Pesawat ini memulai penerbangan keliling dunianya dari Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, pada 9 Maret 2015. ChinaFotoPress/ChinaFotoPress via Getty Images

    Pesawat tenaga surya, Solar Impulse 2 bersiap lepas landas dari Bandara Lukou, Nanjing, Cina, 31 Mei 2015. Pesawat ini memulai penerbangan keliling dunianya dari Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, pada 9 Maret 2015. ChinaFotoPress/ChinaFotoPress via Getty Images

    TEMPO.CO, Jakarta - BUMD PT BIJB serius menjajaki sejumlah bank dan lembaga donor dalam pembangunan terminal Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati, Majalengka.

    Direktur Utama PT BIJB Virda Dimas mengatakan selain menggandeng pihak swasta asing dalam pembangunan terminal BIJB, pihaknya juga sudah melakukan penjajakan dengan pihak perbankan.

    Menurutnya, ada empat bank yang sudah didekati untuk mengucurkan dana. “Pertama BJB sebagai bank tuan rumah, Bank Mandiri. Dua lagi tengah dalam proses,” katanya, Senin, 22 Juni 2015.

    Selain empat bank, pihaknya juga diminta Islamic Development Bank (IDB) untuk mempresentasikan rencana pembangunan bandara yang ditargetkan khusus umroh ini.

    Dengan IDB, kemungkinan pendanaan yang diberikan akan dalam bentuk club deal investment anggota IDB. “Bukan lembaga IDB secara keseluruhan,” katanya.

    Pihaknya menjajaki sindikasi perbankan karena bersama Angkasa Pura (AP) II sudah memetakan rencana pembangunan bandara yang akan dilakukan dalam beberapa tahap.

    Tahap I A yang ditargetkan selesai 2017 dikerjakan akan menyedot dana Rp2,5 triliun, tahap I B membutuhkan dana Rp1,7 triliun. “Kita targetkan kebutuhan dana 30% dari joint venture , dan 70% dari pinjaman,” katanya.

    Kebutuhan pinjaman yang mencapai sekitar Rp1,2 triliun menurutnya akan digunakan untuk membangun keseluruhan tahap I yang mencapai luas 118.000 meter persegi.

    Untuk tahap I A pihaknya menargetkan membangun 83.000 meter persegi tanpa PIR dengan kapasitas 5 juta penumpang per tahun. “Angka ini sudah memperhitungkan limpahan penumpang dari Bandara Husein Sastranegara, Bandung, dan pengembangan lanjutan bandara.,” katanya.

    Virda memastikan rencana groundbreaking terminal pada Agustus atau September 2015 tidak akan menjadi masalah selama nota kesepakatan pembentukan JV dengan AP II segera terbentuk dan pendanaan terpenuhi.

    Sementara itu, ucapnya, untuk pihak swasta asing seperti perusahaan Cina bisa masuk dari awal JV atau masuk saat pembangunan tahap I mulai berjalan.

     Komposisi Saham Jadi 50:50

    Saat ini draft pembentukan JV sudah ada di meja Direktur Utama PT AP II. Awalnya, pembentukan JV bisa lahir pada Juni ini sesuai target yang diberikan Gubernur Jabar Ahmad Heryawan.

    Terkesan lambannya pembentukan JV, menurut Virda, tidak diakibatkan ganjalan tertentu. “Bolanya ada di AP II, kita berharap mudah-mudahan secepatnya,” ujarnya.

    Dalam pembentukan JV rencana saham sesuai arahan gubernur dipastikan kembali berubah. Jika sebelumnya AP II menguasai mayoritas saham dengan komposisi 51:49, dalam rapat terbaru komposisi menjadi 50:50.

    “Awalnya karena ekspektasi Pak Gubernur kalau lahan yang dibutuhkan akan dibebaskan perusahaan joint venture, AP II mayoritas. Sekarang kami usulkan lahan dibebaskan oleh Pemprov Jabar maka saham jadi 50:50,” paparnya.

    Gubernur Jabar Ahmad Heryawan mengatakan perubahan komposisi saham dalam JV yang akan mengelola bandara tersebut tidak menyalahi kesepakatan awal pihaknya dengan AP II.

     BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pemprov DKI Putuskan Kalender Pendidikan Mulai 13 Juli 2020

    Pemprov DKI Jakarta menetapkan kalender pendidikan 2020/2021 dimulai 13 Juli 2020 dan selesai di Juni 2021. Pada Juli 2021, masuk kalender berikutnya.