Inflasi Bulan Juni Diprediksi Naik Jadi 0,6 Persen  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang pedagang menata bahan makanan jualannya di Pasar Senen, Jakarta, Senin (2/1). ANTARA/Zabur Karuru

    Seorang pedagang menata bahan makanan jualannya di Pasar Senen, Jakarta, Senin (2/1). ANTARA/Zabur Karuru

    TEMPO.COJakarta - Bank Indonesia memperkirakan angka inflasi pada Juni akan membengkak, naik 0,6 persen secara bulanan (month to month).

    Gubernur BI Agus Martowardojo memperkirakan secara tahunan (year on year) angka inflasi pada Juni 2015 sebesar 7,4 persen atau melonjak dibandingkan Mei sebesar 0,5 persen secara bulanan dan 7,15 persen secara tahunan. “Kami meminta agar jangan sampai ada masalah persediaan dan cuaca,” ujarnya di Jakarta, akhir pekan lalu.

    Menurut Agus, persediaan harus diantisipasi untuk memenuhi permintaan pada Ramadan dan Lebaran, dan Indonesia masih mewaspadai El Nino. Hingga pekan kedua Juni, angka inflasi tercatat mencapai 0,4 persen yang dipicu kenaikan harga bahan pangan, seperti daging ayam ras, telur ayam ras, cabai merah, bawang merah, dan beras. “Komponennya memang tak besar, tapi kalau naiknya tinggi tentu berkontribusi ke inflasi,” katanya.

    Tekanan inflasi juga datang dari harga yang diatur pemerintah. Namun tekanan tarif yang ditentukan pemerintah pada pekan ketiga tak terlalu besar. Dia menjamin prediksi kenaikan inflasi ini masih sesuai dengan target inflasi hingga akhir tahun, yakni 3-5 persen.

    BI pekan lalu juga mengoreksi prediksi pertumbuhan ekonomi tahun ini, dari sebelumnya 5,4-5,8 persen menjadi 5-5,4 persen. Koreksi itu mempertimbangkan dua hal, yakni turunnya harga komoditas andalan Indonesia disertai permintaan negara mitra utama yang turun dan lambatnya pencairan anggaran pemerintah. Harga komoditas andalan ekspor Indonesia tahun ini anjlok hingga 14 persen. “Ini harus betul-betul disikapi agar bisa tercapai 5,4 persen,” tutur Agus.

    Agus menjelaskan, dari sisi internal, meskipun ada dorongan dari disalurkannya dana desa dan banyaknya bantuan sosial, yang utama adalah sebaran anggaran kementerian yang saat ini jumlahnya masih kecil. Selain itu, penyertaan modal negara kepada badan usaha milik negara belum ada yang terealisasi. “Padahal, jika PMN terealisasi, khususnya perusahaan infrastruktur, tentu akan mendorong pergerakan ekonomi,” ucapnya.

    TRI ARTINING PUTRI | ANDI RUSLI |AM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.