Tingkatkan Performa, Ahok Copot Komisaris & Direksi Bank DKI  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mendagri Tjahjo Kumolo (kiri), bersama Gubernur DKI, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), usai pertemuan tertutup dengan Wapres Jusuf Kalla di Kantor Wapres, Jakarta, 23 Maret 2015. Dalam pertemuan tersebut, Wapres juga mengimbau agar Gubernur dan DPRD DKI melakukan perdamaian agar tak ada konflik antar lembaga. TEMPO/Imam Sukamto

    Mendagri Tjahjo Kumolo (kiri), bersama Gubernur DKI, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), usai pertemuan tertutup dengan Wapres Jusuf Kalla di Kantor Wapres, Jakarta, 23 Maret 2015. Dalam pertemuan tersebut, Wapres juga mengimbau agar Gubernur dan DPRD DKI melakukan perdamaian agar tak ada konflik antar lembaga. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.COJakarta - Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama merombak total jajaran komisaris dan direksi Bank DKI melalui rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB), Rabu, 17 Juni 2015.

    Dalam RUPSLB tersebut, Ahok mencopot beberapa komisaris dan direksi serta menggantinya dengan nama-nama baru. Salah satu posisi vital yang diganti oleh Ahok adalah direktur utama. Jabatan Direktur Utama Bank DKI yang dipegang oleh Eko Budiwiyono kini digantikan Kresno Sediarso.

    Kresno sebelumnya tercatat sebagai Direktur Teknologi dan Operasional Bank Mandiri. Dia menempati posisi tersebut sejak 5 Juli 2010 hingga 16 Maret 2015.

    Kepala Badan Penanaman Modal Provinsi (BPMP) DKI Jakarta Catur Laswanto mengatakan alasan utama Ahok mengganti posisi komisaris dan direksi Bank DKI tak lain untuk meningkatkan performa bank pembangunan daerah tersebut. "Kinerja Bank DKI turun signifikan sejak tahun lalu. Salah satu yang menjadi sorotan Pak Gubernur adalah tingginya rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL)," katanya di Kantor Pusat Bank DKI, kemarin.

    Wacana Ahok mencopot jajaran direksi dan komisaris Bank DKI sudah tercium sejak beberapa bulan silam. Menurut dia, membengkaknya NPL membuat risiko kerugian lebih dari Rp 1 triliun. Hal ini terjadi lantaran manajemen Bank DKI mengarahkan kredit korporasi yang tidak sesuai dengan fokus yang diarahkan Pemerintah Provinsi DKI, misalnya sektor usaha kecil dan menengah, pedagang kaki lima, dan pembangunan rumah susun.

    "Kelihatannya manajemen enggak melakukan itu, lambat sekali. Saya, kan, sudah sabar 2,5 tahun, nih. Jadi mungkin kita mau evaluasi direksi dan komisaris," ujar Ahok seperti dikutip Bisnis.com, 26 Mei 2015.

    Mengacu pada laporan keuangan yang dipublikasikan perseroan, Selasa, 28 April 2015, rasio NPL gross Bank DKI melonjak menjadi 4,81 persen pada kuartal I/2015 dari periode yang sama setahun sebelumnya sebesar 2,65 persen. Rasio NPL nett juga melonjak menjadi 3,00 persen dibandingkan Januari-Maret 2014 yang mencapai 1,53 persen.

    NPL gross Bank DKI per Mei 2015 berada pada posisi 5,41 persen dan NPL nett 3,41 persen. Adapun target perbaikan yang dibidik perseroan pada triwulan II/2015 adalah NPL gross 2,79 persen dan NPL nett 2,39 persen.

    Catur mengatakan kondisi rasio Bank DKI yang masuk tahap waspada harus menjadi perhatian komisaris dan direksi baru Bank DKI. "Target kami bukan cuma menurunkan rasio NPL, tapi meningkatkan kinerja bisnis perusahaan. Adanya direksi baru diharapkan mampu membawa Bank DKI berlari kencang," tuturnya.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Drone Pemantau Kerumunan dari Udara selama Wabah Covid-19

    Tim mahasiswa Universitas Indonesia merancang wahana nirawak untuk mengawasi dan mencegah kerumunan orang selama pandemi Covid-19.