Jelang MEA Indonesia Tingkatkan Sistem Angkutan Barang

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Truk pengangkut sembako antre di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, Rabu (07/10). Penyebrangan kapal laut mulai hari ini dibuka untuk truk pengangkut setelah sebelumnya  difokuskan untuk arus mudik dan arus balik lebaran. Foto: TEMPO/Dwi Narwoko

    Truk pengangkut sembako antre di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, Rabu (07/10). Penyebrangan kapal laut mulai hari ini dibuka untuk truk pengangkut setelah sebelumnya difokuskan untuk arus mudik dan arus balik lebaran. Foto: TEMPO/Dwi Narwoko

    TEMPO.CO, Jakarta - Menjelang pemberlakukan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) yang akan dimulai pada akhir Desember 2015, Indonesia dinilai perlu meningkatkan kelancaran sistem pengangkutan barang dari satu wilayah ke wilayah lainnya.

    Wakil Ketua Urusan Logistik Kadin Carmelita Hartoto menyatakan percepatan pembangunan di industri transportasi dan logistik mutlak harus diilakukan agar mampu bersaing di tingkat regional.

    “Pembenahan infrastruktur di segala bidang termasuk birokrasi akan menurunkan biaya logistik dan menjadikan Indonesia mampu bersaing menghadapi MEA 2015,” katanya dalam acara Power Lunch Session di Jakarta, Selasa (16 Juni 2015).

    Ketua Asosiasi Logistik & Freight Forwarder Indonesia (ALFI) Yukki Nugrahawan Hanafi menambahkan, selain mengatasi hambatan utama masalah logistik yakni tingginya biaya dan rendahnya pelayanan, Indonesia juga perlu meningkatkan produktivitas.

    Menurutnya, ada lima poin perubahan yang harus dipenuhi dalam program reformasi logistik yaitu harmonisasi regulasi, infrastruktur, kebijakan fiskal, pendidikan dan sumber daya manusia.

     “Saat ini Indonesia masih menduduki posisi ke-5, di antara negara ASEAN. Biaya logistik masih tinggi yaitu 26% dari PDB, ini harus segera dibenahi dalam 4,5 tahun ke depan, jika tidak Indonesia akan kalah bersaing dengan negara ASEAN,” katanya.

    Sementara itu, Deputi Menko Bidang Industri dan Perdagangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Edy Putra Irawady, menyatakan pemerintah telah gencar melakukan berbagai upaya guna menyederhanakan proses perdagangan agar dapat menekan biaya logistik.

    Dalam kepemimpinan Presiden Joko Widodo, pemerintah juga fokus membangun berbagai akses trasportasi seperti jalan tol, tol laut, bandara, dan pelabuhan.  Karena itu, kata dia, Indonesia menjadi pasar yang potensial bagi pelaku usaha di sektor logistik.

    “Pertumbuhan perekonomian yang berkelanjutan dan kebutuhan domestik telah membuka peluang usaha bagi para pelaku usaha untuk berinvestasi di sektor ini,” kata dia.

    Pada kesempatan itu juga diadakan peluncuran acara pameran dan konferensi Indonesia Transport, Supply Chain and Logistics & Intralogistics (ITSCL & ILI) yang akan diselenggarakan pada 7-9 Oktober mendatang di JIEXPO, Kemayoran, Jakarta.

    Demi memenuhi permintaan pasar dan memperluas cakupan industri, ada tiga vertikal segmen yang diperkenalkan oleh penyelenggara pada event ITSCL ini yakni segmen e-commerce, cold chain, dan commercial vehicle.

    “Pengenalan segmen baru untuk truk dan kendaraan komersial, cold chain logistic dan e-commerce sektor logistik ini kami rasakan tepat waktu karena beberapa tahun terakhir minat investor di sektor ini cenderung meningkat,” kata James Boey, General Manager Reed Panorama Exhibitions.

    Dia berharap para pelaku usaha dapat menjadikan event ITSCL dan ILI sebagai platform tunggal dan agenda penting untuk bertukar ide dan pengetahuan serta inovasi terbaru di sektor logistik.

    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Kantor dan Tempat Kerja

    BPOM melansir panduan penerapan new normal alias tatanan baru. Ada sembilan rekomendasi agar pandemi tak merebak di kantor dan tempat kerja.