Maksimalkan Kelapa Sawit Sebagai Sumber Energi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dua pekerja PT. Perkebunan Nusantara XIII menyortir kelapa sawit yang baru dipanen di Lorong Pinang, Paser, Kaltim (28/9). Pengolahan kelapa sawit ini mampu memproduksi tandan buah segar (TBS) sebanyak 60 ton per-jam. TEMPO/Ayu Ambong

    Dua pekerja PT. Perkebunan Nusantara XIII menyortir kelapa sawit yang baru dipanen di Lorong Pinang, Paser, Kaltim (28/9). Pengolahan kelapa sawit ini mampu memproduksi tandan buah segar (TBS) sebanyak 60 ton per-jam. TEMPO/Ayu Ambong

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah mendorong dimaksimalkannya kelapa sawit sebagai sumber energi di Indonesia.

    Ketergantungan energi kepada negara lain sangat berbahaya karena itu perlu diupayakan untuk memaksimalkan potensi sumber-sumber energi alternatif menggantikan energi fosil.

    Sumber energi alternatif yang cukup banyak dimiliki Indonesia antara lain sawit. Pasokan kelapa sawit Indonesia saat ini sangat melimpah sehingga tidak perlu menambah luas lahan sudah mencukupi kebutuhan.

    "Memaksimalkan penggunaan energi terbarukan dengan memperhatikan tingkat keekonomian dan meminimalkan penggunaan minyak bumi merupakan prioritas kebijakan pengembangan energi," ujar Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan Dan Konservasi Energi, Rida Mulyana dalam seperti dikutip di laman Kementerian, Sabtu (13 Juni 2015).

    Tren produksi CPO yang masih akan terus meningkat, produksi minyak sawit tahun 2011 adalah 22,5 jt ton dan saat ini pasokan bahan baku melimpah, karena Indonesia surplus produksi 70% yang selama ini menjadi andalan ekspor nasional.

    Walaupun Indonesia market leader (17%), kata Rida, posisi Indonesia di pasar international relative lemah, sehingga daya saing Indonesia cenderung menurun. Perlunya penguatan pasar domestik, sehingga Indonesia tidak terlalu tergantung kepada pasar ekspor, Salah satu potensi untuk itu adalah Biodiesel.

    Menurutnya, pemerintah telah mencanangkan mandatory BBN sebesar 15 persen tahun ini dan 20 persen untuk tahun 2016 mendatang. Pencampuran 10% tidak mengganggu kinerja mesin dan pencampuran 20% sudah dilakukan test dengan hasil tidak ada permasalahan signifikan.

    "Pencampuran ini manfaatnya segudang antara lain, mengurangi ketergantungan kita terhadap impor solar yang makin tinggi dan akan terus semakin tinggi, campur dengan sawit karena pasokan kita melimpah, tanpa menambah lahan sawit karena masih melimpah," lanjut Rida.

    Teknologi biodiesel akan terus berkembang, dengan teknologi yang lebih maju biodesel bisa digunakan tanpa pencampuran (100% biodiesel). Industri mobil bisa melakukan penyesuaian teknologi, di Brazil semua mobil baru menggunakan teknologi FFV (Fuel Flexible Vehicle).

    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kemendikbud, yang Diperhatikan Saat Murid Belajar dari Rumah

    Solusi menghambat wabah Covid-19 diantaranya adalah belajar dari rumah dengan cara menghentikan sekolah biasa dan menggantinya dengan sekolah online.