Jelang Puasa, Stok Bawang dan Cabai Tak Butuh Impor

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petani menunjukkan sejumlah bawang merah yang telah di panen di perkebunan Bantaeng, Sulsel, beberapa waktu lalu.  Perekonomian Sulawesi Selatan (Sulsel) pada Mei mengalami inflasi sebesar 0,31%, yang dipicu tiga komoditas utama masyarakat, yakni bawang merah, daging ayam ras serta telur ayam ras.TEMPO/Iqbal Lubis

    Petani menunjukkan sejumlah bawang merah yang telah di panen di perkebunan Bantaeng, Sulsel, beberapa waktu lalu. Perekonomian Sulawesi Selatan (Sulsel) pada Mei mengalami inflasi sebesar 0,31%, yang dipicu tiga komoditas utama masyarakat, yakni bawang merah, daging ayam ras serta telur ayam ras.TEMPO/Iqbal Lubis

    TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Pertanian memastikan stok bawang merah dan cabai pada momen lebaran mendatang atau Juni-Agustus aman, sehingga tidak diperlukan impor meski adanya indikasi kenaikan harga menjelang Ramadhan.

    Kondisi ini didukung dengan adanya panen raya bawang merah pada minggu III bulan ini atau awal Ramadhan 2015 di sejumlah sentra bawang merah, seperti Brebes, Nganjuk, dan Bima.

    Dari data Kementerian Pertanian, perkiraan produksi bawang merah pada Juni-Agustus tahun ini diperkirakan sebesar 339.766 ton. Sementara, perkiraan kebutuhan pada tiga bulan tersebut sebesar 246.186 ton. Dengan demikian, pada periode itu stok bawang merah diperkirakan surplus sebesar 93.580 ton.

    Kemudian, perkiraan produksi cabai besar pada Juni-Agustus 2015 sebesar 290.250 ton. Sementara, kebutuhannya hanya 288.621 ton atau menunjukkan surplus sebesar 1.629 ton.

    Untuk cabai rawit, perkiraan produksi pada tiga bulan tersebut sebesar 219.338 ton. Sementara kebutuhannya hanya 215.151, sehingga terjadi surplus sebesar 4.187 ton.

    Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian Spudnik Sujono mengatakan pihaknya belum memberikan rekomendasi apapun terkait impor kedua komoditas ini.

    "Kalau lihat data kami hanya sebatas beri informasi bahwa juli juni adalah puncak panen, jadi jangan impor. Kami setuju tidak lakukan impor pada bulan-bulan ini," katanya saat konferensi pers terkait perkembangan hortikultura, Kamis, 11 Juni 2015.

    Terkait tingginya harga, dia mengatakan hal ini masih terjadi karena permasalahan distribusi. Menurutnya, rantai distribusi masih terlalu panjang sehingga menyebabkan disparitas harga yang begitu tinggi antara petani hingga ke konsumen.

    Spudnik mencontohkan harga cabai merah kecil di tingkat petani Banyuwangi Rp12.000 per kg. Namun, ketika sudah sampai ke Bali atau Kalimantan Barat, harganya sudah naik menjadi Rp40.000 per kg.

    "Bawang dan cabai tidak ada instrumen yang bisa kendalikan. Ini dari petani ke pengumpul, dari situ menyebar. Ada mata rantai yang panjang," ujarnya.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pedoman WHO Versus Kondisi di Indonesia untuk Syarat New Normal

    Pemerintah Indonesia dianggap belum memenuhi sejumlah persyaratan yang ditetapkan WHO dalam menjalankan new normal.