Ramadan, Pasokan Makanan dan Minuman Ditambah 50 Persen

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi minuman bersoda. Sxc.hu

    Ilustrasi minuman bersoda. Sxc.hu

    TEMPO.CO , Jakarta:Sekretaris Jenderal  Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Tutung Rahanta mengatakan pihaknya akan menambah pasokan makanan dan minuman sebanyak 30 hingga 50 persen jelang Ramadan dan Lebaran. "Karena sudah jadi tradisi jelang Ramadan permintaan selalu meningkat," ujar Tutung saat ditemui di kantor Kementerian Perdagangan, Rabu, 10 Juni 2015.

    Tutung mengatakan pasokan makanan dan minuman yang ditambah merupakan produk yang dijual di mini market maupun supermarket. Menurut Tutung, dengan adanya pasokan tersebut dapat membantu pemerintah dalam menopang pasar tradisional ketika tidak beroperasi dengan normal.


    "Kalau pasar tradisional tutup saat lebaran. Masyarakat bisa dengan mudah cari daging ke supermarket," ujar Tutung.

    Terkait dengan kenaikan harga,Tutung menilai adanya kenaikan dipengaruhi oleh bahan baku impor serta nilai tukar rupiah. "Tergantung bahan bakunya," ujar Tutung.

    Tutung berharap agar pemerintah dapat berperan menjaga stabilitas harga yang juga masih menguntungkan kepada pelaku usaha. Sebab, kata Tutung, harga bahan kebutuhan pokok biasanya melambung ketika jelang ramadan karena banyaknya permintaan."
    Pemerintah harus menjaga mekanisme pasar tidak boleh terdistorsi," ujar Tutung.

    Menteri Perdagangan Rachmat Gobel mengatakan ketersediaan pasokan bahan pokok dan stok barang jelang ramadan dan lebaran dipastikan cukup. "Secara umum pasokan kita cukup," ujar Rachmat.

    Sehingga, kata Rachmat, rata-rata kebutuhan bahan pokok relatif stabil. Rachmat mengatakan adanya penambahan stok makanan dan minuman harua disertai dengan perbaikan sistem pengangkutan barang dengan melakukakan pengiriman barang pada malam hari. "Khususnya di Jakarta," ujar Rachmat.

    Rachmat juga mengatakan beberapa ritel perlu menyewa gudang sementara untuk produk makanan dan minuman yang tidak jauh dari gerai sebagai persiapan ramadan dan lebaran.

    Kementerian Perdagangan, kata Rachmat, juga telah bekerjasama dengan instansi terkait seperti Kementerian Pertanian, Kementerian Perindustrian, Perum Bulog, serta asosiasi-asosiasi pangan untuk menjaga pasokan dan kestabilan harga. "Ini menjadi komitmen kita bersama dalam supaya bisa menikmati puasa dan lebaran," ujar Rachmat.

    DEVY ERNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Arti Bilangan R(0) dan R(t) untuk Menerapkan New Normal

    Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Suharso Monoarfa mengatakan bahwa suatu daerah dapat melaksanakan New Normal bila memenuhi indikator R(0).