Ramadan, Menteri Gobel Pastikan Harga Bahan Pokok Stabil  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pedagang bahan kebutuhan pokok (sembako). TEMPO/Tony Hartawan

    Pedagang bahan kebutuhan pokok (sembako). TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Perdagangan Rachmat Gobel mengatakan harga rata-rata kebutuhan bahan pokok relatif stabil menjelang bulan puasa. Namun Gobel menyebutkan ada lima bahan pokok yang harganya meningkat.

    "Daging ayam ras, cabai merah keriting, telur ayam ras, gula pasir, hingga kedelai lokal cenderung naik akibat permintaan yang mulai meningkat," ujar Menteri Gobel di kantornya, Rabu, 10 Juni 2015.

    Gobel mengatakan, khusus untuk cabai, dia memastikan akan ada pasokan dari hasil panen, sehingga harga akan turun. Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, harga rata-rata hari ini dibanding rata-rata harga pada Mei naik sebesar 10,54 persen. Harga rata-rata cabai merah keriting pada Mei Rp 27.293 per kilogram, sedangkan harga rata-rata dari 1 hingga 10 Juni ini meningkat menjadi Rp 30.171 per kilogram.

    "Kementerian Pertanian dan asosiasi memastikan akan ada pasokan dari potensi panen, sehingga diharapkan harga dalam satu minggu ke depan akan turun," kata dia.

    Gobel mengimbau agar masyarakat tidak melakukan pembelian berlebihan karena stok bahan pokok dinilai cukup sampai pasca-Lebaran. Dia mengatakan juga akan berkordinasi dengan kementerian terkait untuk menjaga stabilitas harga bahan pokok.

    Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri, Srie Agustina, mengatakan bahan pokok lain yang juga mengalami kenaikan harga adalah bawang merah. Harga rata-rata bawang merah hari ini dibanding rata-rata harga pada Mei naik sebesar 10,15 persen. Harga rata-rata cabai merah keriting pada Mei sebesar Rp 32.612 per kilogram. Sedangkan harga rata-rata dari 1 hingga 10 Juni ini meningkat jadi Rp 34.750 per kilogram.

    Untuk mengawal harga bawang, Kementerian Perdagangan akan menggerakkan kembali sistem informasi harga bawang yang pada tahun lalu telah dilakukan. Sistem tersebut, kata Srie, dapat mengakomodasi informasi harga antar-petani dan pedagang di pasar induk. "Sistem ini menjadi komunikasi dua arah antara pedagang pasar induk dan petani," ujar Srie.

    Srie mengatakan sistem ini diharapkan bisa memangkas adanya tengkulak yang menjadi perantara antara petani bawang dan pedagang pasar induk. Sehingga, kata Srie, petani dapat mengetahui harga yang sesuai untuk dijual ke pedagang pasar induk. Misalnya, di Brebes terdapat lapak-lapak pengolahan bawang yang dipasok oleh petani. Dari lapak pengolahan tersebut kemudian dijual ke pasar induk. "Mereka ini (tengkulak) yang menyebabkan harga tinggi. Jadi kita ingin memutuskan mata rantai itu," ujar dia lagi.

    Soal pemasaran bawang, Srie mengatakan pihaknya akan berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian. Dengan demikian, harga bawang dapat terkontrol dengan baik.

    DEVY ERNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Arti Bilangan R(0) dan R(t) untuk Menerapkan New Normal

    Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Suharso Monoarfa mengatakan bahwa suatu daerah dapat melaksanakan New Normal bila memenuhi indikator R(0).