Peredaran Merica Palsu Tak Ditemukan di Pasar Surabaya  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi pasar tradisional. TEMPO/Aditia Noviansyah

    Ilustrasi pasar tradisional. TEMPO/Aditia Noviansyah

    TEMPO.COSurabaya - Penemuan merica palsu di Banjarnegara, Jawa Tengah, pekan lalu tidak membuat khawatir para pedagang produk hortikultura di Surabaya. Agung, 37 tahun, adalah seorang di antaranya. Dia punya trik khusus membedakan mana merica palsu dan yang asli.

    Pedagang hortikultura di pasar tradisional Pabean Cantian ini mengatakan, pada dasarnya, tekstur merica asli lebih kasar. Jika diperhatikan secara saksama, teksturnya membentuk garis dan berbulu halus. “Kalau dipegang terasa kasar,” katanya, Rabu, 10 Juni 2015.

    Isu peredaran merica palsu sudah dia ketahui sejak beberapa tahun silam atau jauh sebelum merebaknya pemberitaan penemuan merica palsu di Banjarnegara. Menurut dia, seorang warga mendatangi dan bertanya soal asli-tidaknya merica yang dibeli.

    "Ada seseorang yang membawa contohnya kepada saya,” ujarnya. Dia lalu mengambil segenggam merica palsu itu dan disiram air. Karena diduga merica palsu itu terbuat dari tepung terigu, seketika bentuknya berubah. “Kalau kena air pasti habis.”

    Itu adalah pertama dan terakhir kalinya Agung melihat merica palsu. Setelah itu, dia tidak pernah menjumpai lagi merica palsu di pasar tersebut. 

    Sejumlah agen merica di Surabaya juga mengakui hal yang sama. Satu di antaranya adalah Hos Mujianto, 52 tahun, yang tidak pernah mendapati merica palsu di Surabaya. Kata dia, pembeli justru lebih pintar membedakan kualitas merica baik dengan yang tidak.

    "Apalagi merica palsu, ya, pasti tahu mereka. Sekarang merica super itu harganya Rp 190 ribu per kilogram,” tuturnya. Dia memperkirakan peredaran merica palsu hanya ada di sejumlah pasar tradisional di daerah-daerah.

    Harga merica yang cukup mahal membuat para pedagang hortikultura di daerah berbuat nakal. “Dulu pernah dengar itu, tapi itu adanya di daerah-daerah. Kalau di sini tidak ada,” ucapnya.

    Sebelumnya, produk yang memiliki nama Latin Piper albi linn ini sempat menghebohkan warga Banjarnegara. Di Indonesia, produk merica setiap tahun mencapai 80-90 ribu metrik ton. Dari produksi tersebut, 80 persen dialokasikan untuk pasar ekspor.

    AVIT HIDAYAT


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menimbun Kalori Kue Lebaran, seperti Nastar dan Kastengel

    Dua kue favorit masyarakat Indonesia saat lebaran adalah nastar dan kastangel. Waspada, dua kue itu punya tinggi kalori. Bagaimana kue-kue lain?