Wakil Presiden Ajak Lembaga Internasional Bangun Ruang Hijau

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Batu Prasasti Pohon yang ditanam oleh delegasi Negara Sudan tergeletak di lokasi penanaman pohon oleh sejumlah negara peserta Konfrensi Asia Afrika Tahun 2005 di Tega Lega, Bandung, Jawa Barat, 19 April 2015. Jelang peringatan Konfrensi Asia Afrika ke-60, ruang terbuka hijau yang ditanami sejumlah pohon khas berbagai negara peserta KAA terlantar. TEMPO/Aditya Herlambang Putra

    Batu Prasasti Pohon yang ditanam oleh delegasi Negara Sudan tergeletak di lokasi penanaman pohon oleh sejumlah negara peserta Konfrensi Asia Afrika Tahun 2005 di Tega Lega, Bandung, Jawa Barat, 19 April 2015. Jelang peringatan Konfrensi Asia Afrika ke-60, ruang terbuka hijau yang ditanami sejumlah pohon khas berbagai negara peserta KAA terlantar. TEMPO/Aditya Herlambang Putra

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Presiden Jusuf Kalla mengajak lembaga keuangan internasional berkontribusi dalam menyalurkan pembiayaan proyek-proyek infrastruktur hijau. 

    Hal tersebut disampaikan Kalla dalam pembukaan Indonesia Indonesia Green Infrastructure Summit (IGIS) 2015 di Hotel Fairmont, Jakarta. JK menegaskan Indonesia tidak ingin mengulangi rezim pembabatan hutan dan eksploitasi mineral tambang tanpa nilai tambah. 

    "Di sinilah butuh kerja sama lembaga keuangan internasional untuk mendahulukan investasi seperti ini, untuk mendapatkan green energy atau green infrastructure di ekonomi ini," tuturnya, Selasa, 9 Juni 2015. 

    Menurut JK, dengan dukungan pembiayaan dari lembaga keuangan internasional seperti Bank Dunia, investasi hijau oleh pelaku usaha Indonesia akan terdorong. Pasalnya, investasi hijau membutuhkan biaya dan teknologi tinggi dibandingkan investasi lainnya. 

    "Harapan kita di samping menjaga lingkungan, kerja sama investasi dan keuangan juga terjalin, sehingga dorongan green investment ini lebih memungkinkan dan dapat dijalankan sebaik-baiknya," imbuh JK. 

    Wapres juga menjanjikan insentif bagi industri yang mengambangkan investasi hijau dan disinsentif bagi yang masih menerapkan teknologi yang tidak ramah lingkungan alias brown investment.  

    Dengan bergulirnya investasi hijau, JK berharap pertumbuhan ekonomi Indonesia berjalan dengan tetap menjaga prinsip keberlanjutan lingkungan. 

    "Itu semua untuk menjadikan bangsa ini lebih sustainable, baik dari segi lingkungan, juga dari employment, dan value added daripada kekayaan bangsa ini. Sehingga dapat wariskan bangsa kita untuk masa depan anak dan cucu kita secara baik," katanya.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Kantor dan Tempat Kerja

    BPOM melansir panduan penerapan new normal alias tatanan baru. Ada sembilan rekomendasi agar pandemi tak merebak di kantor dan tempat kerja.